DENPASAR,TIVIBALI.com – Pemancing mania memadati aliran Tukad Bindu, Kesiman, Denpasar, Minggu (9/8/2026) pagi. Mereka mengikuti lomba mancing lele air deras yang digelar Banjar Saraswati dalam rangka penggalian dana upacara adat sekaligus kampanye menjaga kebersihan sungai.
Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara secara resmi membuka kegiatan tersebut dengan melakukan penebaran ikan lele ke sungai. Sejak pukul 06.00 WITA, lokasi sudah dipadati peserta dari berbagai wilayah di Bali.
“Ini kegiatan yang positif. Selain sebagai hiburan dan penyaluran hobi, juga bisa menjadi edukasi bagi masyarakat untuk terus menjaga kelestarian lingkungan dan aliran sungai,” kata Jaya Negara saat membuka acara.
Turut hadir Anggota DPRD Provinsi Bali I Gusti Ngurah Gede Marhaendra Jaya, AA Gede Agung Suyoga, serta Ketua DPRD Kota Denpasar I Gusti Ngurah Gede.
Kelian Adat Banjar Saraswati Anak Agung Ngurah Srijaya Widiada mengatakan, lomba ini digelar untuk menggalang dana Karya Melaspas dan Mendem Pedagingan yang akan dilaksanakan Desember 2025.
“Kami ingin membuat inovasi penggalian dana yang tidak hanya konvensional. Sekaligus ini wadah silaturahmi antar pecinta mancing dan warga,” ujarnya.
Panitia menyiapkan 500 kilogram lebih ikan lele untuk dilepas ke Tukad Bindu. Dari jumlah itu, terdapat 6 ekor “ikan master” dengan bobot di atas 3 kilogram yang menjadi buruan utama peserta.
Sebanyak 2.100 kupon dijual dengan harga Rp60.000. Panitia memperkirakan sekitar 1.000 pemancing ikut serta. Tiket sudah termasuk akses masuk dan undian doorprize.
Total hadiah uang tunai yang diperebutkan mencapai Rp6,5 juta untuk 6 juara berdasarkan berat ikan master. Juara 1 mendapatkan Rp2,5 juta, disusul juara 2 Rp1,5 juta dan juara 3 Rp1 juta.
Selain itu, ada 50 ekor ikan berhadiah pita khusus. Peserta yang berhasil memancing ikan berpita berhak mendapat doorprize berupa uang tunai dan barang.
Srijaya Widiada berharap kegiatan serupa bisa menjadi contoh bagi banjar lain dalam menggali dana kegiatan keagamaan secara kreatif.
“Kami ingin menunjukkan bahwa penggalian dana bisa dilakukan dengan cara yang menghibur, produktif, dan tetap menjaga lingkungan,” pungkasnya. (mtb)

Tinggalkan Balasan