DENPASAR, TIVIBALI.com – Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Bakrie memaparkan pandangan tentang kondisi ekonomi, peluang, tantangan, dan arah pembangunan Indonesia ke depan dalam forum UID Talk ke-27 yang digelar di UID Bali Campus, Kura Kura Bali SEZ, Serangan, Sabtu (4/7/2026).
Presiden United in Diversity (UID) Tantowi Yahya sengaja menghadirkan Anindya Bakrie sebagai pembicara utama karena dinilai paling memahami dinamika perekonomian nasional saat ini dan arah Indonesia ke depan.
Dalam paparannya, Anindya menyebut Indonesia mendapat kepercayaan tinggi di mata dunia. “Ekonomi Indonesia dari sisi ekspor sudah mencapai 300 miliar dolar. Indonesia juga memiliki coffee table book untuk pelaku usaha yang ingin mengetahui potensi ekspor-impor,” ujarnya.
Terkait investasi, ia menyampaikan target tahun ini mencapai Rp2.571,5 triliun. Angka ini menjadi indikator optimisme terhadap daya tarik Indonesia sebagai tujuan investasi global.
Namun Anindya mengingatkan tantangan besar yang harus dibenahi. Kontribusi manufaktur terhadap PDB turun dari 50% menjadi 46,9%. Padahal sektor ini merupakan jantung ekonomi.
“Kenapa kita harus melakukan transformasi nasional? Karena manufaktur kita turun. Makanya kita perlu hilirisasi, kita perlu investasi, kita perlu mindset yang berbeda. Bukan sekadar dari natural resource saja, tapi bagaimana kita menjadi human resource. Itu yang sangat penting untuk terus kita kejar,” tegasnya.
Ia membandingkan posisi Indonesia dengan negara berpenduduk besar lainnya. Pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I 2026 tercatat 5,61% yoy. Dari sisi keamanan, kepercayaan publik mencapai 74,5% berdasarkan Survei Poltracking Mei 2026.
Selain itu, BPS mencatat 110 juta penduduk Indonesia berada di usia 15-39 tahun, didominasi Gen-Z dan milenial digital native. “Ini modal besar kita ke depan,” katanya.
Anindya memaparkan Indonesia saat ini memasuki masa penyesuaian ekonomi struktural melalui 4 langkah utama: menata ulang pasar modal agar bursa lebih transparan, berintegritas, dan terpercaya; penataan tata niaga SDA supaya hilirisasi jalan dan bahan baku tidak habis diekspor; perampingan BUMN dari 1.000 menjadi 250 entitas agar lebih fokus dan efisien; serta memperkuat ketahanan pangan melalui program di level nasional hingga pedesaan.
“Jadi jelas, siapa yang mempunyai ketahanan pangan, ketahanan energi, dan air, merekalah yang bisa terus berdiri dan maju,” tandasnya.
Pembicara lainnya, Prof. Dr. Mahendra Yasa, S.E.,M.Si., menegaskan pembangunan Bali ke depan harus menjaga tiga pilar utama. “Apapun yang kita lakukan nanti terkait pembangunan Bali, semua stakeholder jangan sampai mendegradasi tiga hal: alam, krama, dan budaya Bali. Tiga sumber daya ini tidak boleh rusak demi growth,” ujarnya.
UID Talk ke-27 yang di moderatori pengamat ekonomi dan pariwisata Trisno Nugroho semakin menarik dan menjadi ruang dialog terbuka antara pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat untuk merumuskan strategi ekonomi nasional yang inklusif dan berkelanjutan. (MAW)

Tinggalkan Balasan