DENPASAR, TIVIBALI.com – Kinerja penjualan eceran Bali tetap menunjukkan tren ekspansif di tengah fase normalisasi aktivitas pariwisata. Indeks Penjualan Riil (IPR) Bali pada Agustus 2026 tercatat di level 128,5 dan tetap berada di zona optimis, di atas ambang batas 100.

Kinerja positif tersebut terutama didorong oleh meningkatnya permintaan pada tiga kelompok barang. Kategori bahan bakar kendaraan bermotor tumbuh 4,2 persen (mtm), suku cadang dan aksesori 3,3 persen (mtm), serta barang budaya dan rekreasi 1,6 persen (mtm).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Achris Sarwani, menilai penguatan ini mencerminkan masih kuatnya aktivitas konsumsi masyarakat dan wisatawan pada periode puncak kunjungan. Kondisi itu turut mendorong kebutuhan transportasi, rekreasi, dan aktivitas ekonomi pendukung lainnya.

Fundamental ekonomi Bali hingga kini masih terjaga. Pertumbuhan ekonomi Bali pada Triwulan II 2026 tercatat 5,78 persen (yoy), ditopang konsumsi rumah tangga, investasi, dan kinerja pariwisata. Survei Konsumen BI Bali juga mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) September 2026 tetap optimis di level 122,75.

Untuk September 2026, penjualan eceran diprakirakan tetap kuat. IPR September 2026 diprakirakan naik 0,3 persen (mtm) ke level 128,9. Pendorongnya adalah kategori sandang yang tumbuh 4,5 persen (mtm), peralatan informasi dan komunikasi 4,3 persen (mtm), serta barang budaya dan rekreasi 3,3 persen (mtm).

“Meski aktivitas pariwisata mulai memasuki fase normalisasi setelah periode puncak liburan Agustus 2026, tingkat kunjungan dan aktivitas ekonomi pendukung masih relatif tinggi sehingga tetap menopang permintaan,” ujar Achris dalam keterangan resminya, Selasa (21/10/2026).

Di sisi harga, ekspektasi pelaku usaha masih tinggi meski moderat. Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) untuk November 2026 dan Februari 2027 masing-masing tercatat 198, sedikit melandai dari survei sebelumnya. Inflasi Bali September 2026 tercatat naik menjadi 3,79 persen (yoy) dari 3,45 persen pada bulan sebelumnya, sedikit di atas sasaran inflasi nasional.

Namun tekanan harga belum menggerus optimisme. Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) tiga bulan mendatang tercatat 178, sedikit turun dari 180 pada survei sebelumnya. IEP enam bulan mendatang di level 168, turun dari 188. Level IEP yang jauh di atas 100 menandakan pelaku usaha masih yakin prospek ritel Bali tetap tumbuh.

Optimisme tersebut sejalan dengan Survei Konsumen. Indeks Ekspektasi Konsumen naik dari 128,17 pada Agustus menjadi 130,33 pada September 2026, mengindikasikan ekspektasi masyarakat terhadap ekonomi ke depan tetap positif.

Keyakinan pelaku usaha juga didukung pembiayaan. Kredit Lapangan Usaha Perdagangan hingga Juli 2026 tumbuh 1,86 persen (yoy).

Secara keseluruhan, Survei Penjualan Eceran BI mengindikasikan konsumsi dan perdagangan ritel Bali masih dalam fase ekspansi. Terjaganya daya beli dan prospek usaha menjadi penopang keberlanjutan pertumbuhan ekonomi Bali pada semester II 2026. (ad/maw)