DENPASAR, TIVIBALI.com – LSPR Institute of Communication & Business Bali terus mendorong peningkatan kualitas SDM Bali melalui penguatan komunikasi publik. Salah satunya lewat program Journalism Short Course Sesi 4 bertema Public Speaking for Media yang digelar di Auditorium Kampus LSPR Bali, Selasa (20/10/2026) siang.

Head & PR LSPR Bali, Arsita Putri, mengatakan program ini merupakan bentuk kontribusi nyata kampus LSPR dalam dunia edukasi. Menurutnya, komunikasi yang baik adalah fondasi utama kepercayaan diri. “LSPR ingin berperan andil dalam edukasi Public Speaking. Ketika komunikasi sudah baik, lebih percaya diri, otomatis hasil yang dilakukan akan lebih maksimal,” ujarnya.

Peserta yang hadir datang dari berbagai latar belakang, mulai dari kalangan media, perhotelan, hingga kampus. Antusiasme peserta terbilang tinggi, tak lepas dari kualitas narasumber yang dihadirkan yakni MC profesional sekaligus akademisi public speaking, Putu Dessy Fridayanthi, S.T., M.I.Kom yang akrab disapa Kak Ecy.

Arsita Putri menilai materi public speaking masih menjadi kebutuhan mendesak di Indonesia, khususnya Bali. Dari pengamatannya, literasi public speaking di kalangan profesional masih rendah. “Menyangkut public speaking di Indonesia, khususnya Bali, yang saya lihat ilmunya masih kurang,” ungkapnya. Karena itu sebagai kampus yang memiliki jurusan Ilmu Komunikasi, LSPR memiliki tanggung jawab menggelar pelatihan serupa lebih sering, bahkan gratis, untuk meningkatkan kompetensi komunikasi masyarakat Bali secara berkelanjutan. Kebutuhan itu, kata dia, tidak hanya dirasakan jurnalis, tetapi juga pemerintahan, BUMN, BUMD, pariwisata, hingga swasta.

Sementara itu pemateri Dessy Pridayanthy menyebut public speaking adalah keterampilan wajib lintas profesi untuk menunjang profesionalisme, terutama saat tampil di depan media dan publik. “Setiap diundang mengisi materi public speaking, saya selalu tanya tujuannya apa. Paling sering adalah membuat mereka percaya diri berbicara di depan publik. Penyakit masyarakat kita ketika bicara di depan umum itu tidak percaya diri dan grogi. Itu wajar kalau tidak sering dilatih,” ujarnya.

Menurutnya, public speaking bukan sekadar kemampuan berbicara, melainkan investasi profesionalisme. Ada dua alasan mengapa publik mau mendengarkan seseorang, pertama karena disukai dan kedua karena disegani. Untuk disukai, kuncinya ada pada teknik bicara yang menyenangkan dan penampilan menarik, salah satunya dengan menerapkan teknik Smiley Voice yang membuat audiens merasa lebih dekat.

Dalam materinya, Kak Ecy membeberkan lima kunci menjadi MC profesional. Pertama artikulasi yang jelas dengan membuka mulut sesuai huruf tanpa ditahan. Kedua intonasi yang bervariasi dan tidak monoton, rahasianya adalah berbicara sambil tersenyum agar suara terdengar ramah dan berenergi. Ketiga penekanan kata atau stressing pada kalimat penting seperti judul acara atau nama tokoh. Keempat power atau kekuatan suara yang bulat, bertenaga dan stabil dengan latihan pernapasan perut. Kelima penjedaan atau pause, yakni tahu kapan harus berhenti sejenak agar pesan lebih berkesan dan mudah dicerna.

Untuk melawan gugup, ia menekankan pentingnya membangun mindset positif. “Dalam pikiran kita harus sukses bicara di depan audiens. Tidak boleh ada kata aduh aku grogi nih, yang boleh hanya aku bisa, aku yakin, aku lancar, aku berhasil hari ini,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Kak Ecy juga membagikan buku karyanya berjudul #KATAECY, Tips-Tips MC Professional dan Kiat-Kiat Praktis Public Speaking kepada dua peserta paling aktif sebagai apresiasi. (MAW).