DENPASAR, TIVIBALI.com – Wakil Menteri PPN / Bappenas Febrian Alphyanto Ruddyard menegaskan Bali dipilih Bappenas sebagai model nasional pembangunan berkelanjutan dan percontohan implementasi Sustainable Development Goals (SDGs) di Indonesia.

Hal itu disampaikannya saat peluncuran Project Bali E-Mobility di Denpasar, Kamis (22/10/2026), yang dihadiri Gubernur Bali Wayan Koster, Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia Yoon Sun-gu, Country Representative GGGI Indonesia Mr. Rowan Fraser, dan perwakilan Hyundai Motor.

Febrian mengatakan proyek ini adalah kerja sama yang unik. Bukan hanya kerja sama negara dengan negara atau perusahaan dengan perusahaan, tetapi kerja sama antara orang dengan orang.

“Kerja sama ini bukan hanya misi budaya atau pendidikan, tapi misi ekonomi yang saling menguntungkan dan berkelanjutan. Diawali dari Provinsi Bali,” ujarnya.

Menurutnya, peluncuran 11 bus listrik ini adalah bukti konkret kekuatan kolaborasi antara Pemerintah Korea melalui KOICA, Global Green Growth Institute (GGGI) sebagai pelaksana, dan Pemerintah Provinsi Bali.

“Project ini berbasis kebijakan dan berbasis bukti. Evidence-based policy yang siap direplikasi secara bertahap di seluruh Nusantara,” kata Febrian.

Febrian juga hadir didampingi Deputi Bappenas Teguh Sambodo, Staf Khusus Teguh Pardede, serta mantan Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono yang diminta membantu merancang konsep Bali bersih hingga Indonesia berkelanjutan.

Ia mengapresiasi komitmen Gubernur Koster yang menjaga Bali melalui konsep Nangun Sat Kerthi Loka Bali dan kearifan lokal Tri Hita Karana, yakni Parahyangan, Pawongan, dan Palemahan.

“Bapak Presiden Prabowo ingin bukan hanya Bali yang bersih, Indonesia yang bersih, tapi kita bersih lahir batin. Dimulai dari yang sederhana, bersih dari sampah plastik, bersih dari sampah udara,” ucapnya.

Febrian menyebut 11 bus yang diluncurkan ini adalah awal. Ke depan, transisi akan menyasar bus, mobil, hingga kendaraan roda dua. Ia bahkan berharap akan lahir merek kendaraan buatan Bali.

“Membersihkan Bali bukan hanya dari sampah rumah tangga, tapi juga sampah yang ditimbulkan dari listrik, kendaraan bermotor, dan pabrik yang masih menggunakan energi belum bersih,” ujarnya.

Sementara itu, Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan hibah bus ini sejalan dengan dua regulasi kunci di hulu dan hilir. Di hulu ada Pergub Nomor 45 Tahun 2019 tentang Bali Energi Bersih yang melarang pembangunan pembangkit batu bara dan kini menyiapkan PLTS 1.000 megawatt di Jembrana dan Buleleng.

Di hilir ada Pergub Nomor 48 Tahun 2019 tentang Kendaraan Listrik Berbasis Baterai. Koster mencontohkan efisiensi kendaraan listrik miliknya, Denpasar-Singaraja pulang-pergi yang biasanya habis BBM Rp 500 ribu, dengan mobil listrik hanya Rp 140 ribu tanpa polusi dan tanpa suara.

Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia Yoon Sun-gu mengatakan proyek ini adalah wujud nyata dari Kemitraan Strategis Komprehensif Khusus yang disepakati pemimpin kedua negara pada April lalu.

“Proyek ini menyatukan bantuan pembangunan Pemerintah Korea, keahlian GGGI, dan kemampuan teknologi perusahaan kedua negara bersama upaya Pemprov Bali,” kata Yoon.

Ia berharap 11 bus listrik Hyundai County Electric dengan jarak tempuh 250 kilometer dan 6 unit fast charging ini membantu Bali mengurangi lebih dari 2.200 ton CO2e selama 10 tahun operasi, serta menjadi model berkelanjutan yang dapat direplikasi di wilayah lain di Indonesia. (MAW)