Oleh : Yudi Latif
ARTIKEL, TIVIBALI.com- Hidup tak selalu mudah. Ada jalan terjal yang mesti ditempuh dengan kaki gemetar, luka yang tak sempat diberi nama, dan kesedihan yang begitu dalam hingga kata-kata kehilangan daya untuk menjelaskannya.
Namun, betapapun berat perjalanan, selalu ada sesuatu yang membuat hidup layak diteruskan: seberkas cahaya yang menyelinap melalui celah-celah gelap, keindahan yang diam-diam mengingatkan bahwa dunia tidak seluruhnya berisi kepedihan.
Bagiku, salah satu cahaya itu bernama seni.
Terima kasih, seni, telah hadir di sepanjang jalan hidupku. Engkau menjadi penghiburan ketika kenyataan tak selalu ramah, teman ketika kesepian tak tahu ke mana harus pulang, dan tempat bernaung ketika dunia terasa terlalu keras untuk dihadapi sendirian. Engkau tak menjanjikan bahwa segala kesulitan akan berakhir, tetapi mengajariku bahwa di tengah penderitaan, hidup masih menyimpan keindahan.
Aku mengenang masa sekolah dasar, ketika lagu-lagu Rhoma Irama menjadi sumber kegembiraan. Di pedesaan, sambil berkebun dan menenteng radio kaset yang sedang berjaya-jayanya, aku menikmati alunan dangdut yang riuh dan penuh tenaga. Betapa ajaib bunyi kendang itu! Begitu tabuhannya terdengar, tubuh seketika ingin bergoyang, seolah segala beban dan masalah kehidupan dapat dihalau barang sejenak. Di antara peluh dan pekerjaan, musik menghadirkan kebahagiaan sederhana yang tak memerlukan alasan. Hingga kini, kenangan itu masih menyimpan matahari, tanah pedesaan, dan kegembiraan masa kecil yang tak dibuat-buat.
Memasuki masa SMP, dunia batinku tumbuh bersama lagu-lagu Chrisye, album *Badai Pasti Berlalu*, dan kompilasi Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors. Musik membuka jendela imajinasi, memperkenalkanku pada kerumitan perasaan dan keindahan yang tersembunyi di balik kesunyian.
Sementara itu, balada-balada Ebiet G. Ade menanamkan daya puitik ke dalam kata dan nada. Dari lagu-lagunya, aku belajar bahwa kata-kata dapat menampung kegelisahan, kesedihan dapat menjelma keindahan, dan ada perasaan yang hanya dapat dipahami ketika hati bersedia mendengarkan.
Masa SMA mempertemukanku dengan Chaseiro, Ricky Basuki, dan Fariz Rustam Munaf, yang memperkaya cakrawala pendengaranku. Setiap Ramadan tiba, lagu-lagu religi Bimbo selalu menemukan jalan pulang ke dalam ingatan. Melodinya menghadirkan suasana teduh, mengajak hati merenung, dan mengingatkan bahwa di balik segala kerapuhan, manusia masih memiliki jalan untuk pulang kepada Tuhan. Betapa indahnya ketika seni bukan sekadar hiburan, melainkan juga ruang perenungan dan jalan menuju sesuatu yang lebih dalam dari diri sendiri.
Masa kuliah membawa pendengaranku berkelana menuju dunia jazz. Aku begitu antusias menyaksikan pentas-pentas Indra Lesmana, Dwiki Dharmawan, dan musisi-musisi lainnya. Dari jazz, aku belajar tentang kebebasan, improvisasi, dan harmoni. Hidup, seperti musik, tak selalu dapat dituliskan dalam partitur yang pasti. Ada kejutan, perubahan arah, dan nada-nada tak terduga yang justru memperkaya keseluruhan komposisi. Barangkali kita pun perlu belajar menerima ketidakpastian, sebagaimana para musisi menemukan harmoni di antara suara-suara yang berbeda.
Kini, ketika menoleh ke belakang, yang kukenang bukan hanya lagu-lagu yang pernah menjadi bagian dari hari-hariku, melainkan juga diriku sendiri pada berbagai usia: seorang bocah yang berkebun sambil menenteng radio kaset, seorang remaja yang menemukan dunia dalam balada dan puisi, dan seorang mahasiswa yang terpukau oleh kebebasan jazz. Mereka semua masih hidup di dalam diriku, tersimpan sebagai lapisan-lapisan kenangan yang tak sepenuhnya lekang oleh waktu.
Barangkali, itulah keajaiban seni: ia menyimpan waktu dengan cara yang tak sanggup dilakukan ingatan biasa. Sebuah lagu dapat membawa kita kembali kepada halaman rumah yang telah lama berubah, kepada kegembiraan yang pernah kita miliki sebelum kehidupan mengajari kita tentang kehilangan. Musik bukan hanya membawa kita pulang ke masa silam, tetapi juga memperlihatkan betapa jauh kita telah berjalan dan betapa banyak bagian diri kita yang tumbuh bersamanya.
Tentu, seni tak pernah menghapus penderitaan. Lagu yang indah tak dapat mengembalikan mereka yang telah pergi, puisi tak selalu menyelesaikan persoalan, dan musik tak dapat membebaskan manusia dari kefanaan. Namun, penghiburan tak selalu berarti menghilangkan kesedihan. Terkadang, penghiburan adalah keberanian untuk tetap berjalan meskipun hati terluka, kesanggupan memandang matahari setelah malam yang panjang, dan kemampuan untuk tetap mencintai kehidupan meskipun kita tahu bahwa segalanya tak selalu akan baik-baik saja.
Seni tak menyelamatkanku dengan mengangkat seluruh beban dari pundakku, tetapi dengan membuatku sesekali lupa bahwa aku sedang memikul beban. Ia tak selalu memberikan jawaban, tetapi menemaniku berdamai dengan pertanyaan. Ia tak menjadikan hidup tanpa luka, tetapi membuat luka-luka itu tak sepenuhnya menguasai hidupku.
Jika hidup adalah perjalanan panjang melewati jalan-jalan terjal, seni adalah lagu yang membuat langkah terasa lebih ringan. Jika hidup adalah malam yang pekat, seni adalah cahaya kecil yang cukup untuk menunjukkan ke mana kaki mesti melangkah.
Aku tak tahu berapa panjang lagi jalan yang mesti kutempuh atau berapa banyak kehilangan yang masih menunggu. Namun, selama masih ada lagu yang dapat kudengarkan, puisi yang dapat kubaca, dan keindahan yang membuatku terdiam dalam rasa syukur, aku ingin terus melangkah. Bukan karena hidup telah menjadi mudah, melainkan karena aku belajar bahwa bahkan dalam hidup yang sulit, masih ada hal-hal yang membuatnya layak dicintai.
Betapa beruntungnya aku pernah hidup, pernah mendengar, pernah terharu. Betapa beruntungnya aku, di tengah segala yang tak mudah, pernah ditemani oleh keindahan.
Terima kasih, seni. Engkau tak menjanjikan bahwa segala luka akan sembuh, tetapi mengajariku bahwa hati yang terluka masih dapat merasakan keindahan. Ketika dunia terasa terlalu berat untuk kupeluk, engkau mengingatkanku bahwa hidup ini—dengan segala getir, kehilangan, dan ketidakpastiannya—masih menyimpan sesuatu yang pantas kusyukuri.
Terima kasih telah membuatku bukan hanya bertahan dalam hidup, tetapi juga sesekali jatuh cinta lagi kepadanya.

Tinggalkan Balasan