Seminar Metafisika Ekstakta: Syaikh Kadirun Yahya, Cendikiawan dan Pelopor Ilmu Metafisika Eksakta

Ket Foto: Cendikiawan dan ulama tasawuf besar Prof. DR. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya (1917-2001).

PEKALONGAN, tivibali.con- Cendikiawan dan ulama tasawuf besar Prof. DR. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya (1917-2001) menjawab khilafiyah di kalangan umat Islam dunia yang telah berlangsung berabad-abad, dengan konsep metafisika eksakta. Melalui pendekatan metafisika eksakta, agama tidak lagi menjadi dogmatik, melainkan bisa dijelaskan dalam ranah ilmu fisika yang ditingkatkan masuk ke dalam dimensi yang lebih tinggi.

“Prof. DR. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya adalah pelopor di kalangan ulama sufi dunia, yang mengawinkan tasawuf sebagai ilmu kerohanian dalam Islam dengan ilmu eksakta, bahkan menjadikannya sebagai kurikulum resmi dalam pendidikan perguruan tinggi,” demikian dipaparkan oleh Syaikh H. Ahmad Baqi Arifin dalam Seminar Metafisika Eksakta “Menggali Pemikiran Prof. DR. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya,” di Pekalongan, Jawa Tengah, Selasa (29/8/2023).

Syaikh H. Ahmad Baqi Arifin merupakan pimpinan Alkah Dzikir dan Rumah Suluk Baitul Jafar Tarekat Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah, di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, yang juga cucu dari Syaikh Kadirun Yahya.

Frekuensi dan Channel

Implementasi tasawuf dalam praktek pengamalan tarekat, dirumuskan oleh Syaikh Kadirun Yahya sebagai metode dan teknologi untuk bermunajat kepada Tuhan, yang eksak dan terukur. “Dengan metodelogi yang benar, para pengamal tarekat dipastikan akan bisa mengukur, apakah ibadah yang dilakukannya telah ‘terkoneksi’ dengan ‘frekuensi’ atau ‘channel’ Tuhan,” lanjut Syaikh H. Ahmad Baqi Arifin.

Tentang frekuensi dan channel inilah yang menjadi jawaban terhadap khilafiyah selama berabad-abad di dunia Islam, di mana ada sebagian umat Islam menentang praktek-praktek tasawuf, yang saat itu memang belum bisa dijelaskan dengan logika dan ilmu pengetahuan. Namun kini semua itu bisa terjawab dengan ilmiah.

Metafisika di Perguruan Tinggi

Dalam era modern yang mengedepankan ilmu pengetahuan dan teknologi ini, agama harus mampu mengedepankan logika berpikir dan pembuktian-pembuktian ilmiah. Jika tidak, maka agama akan ditinggalkan oleh pengikutnya, seperti yang banyak terjadi di negara-negara barat.

Sejak tahun 50-an, Prof. DR. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya telah mulai mengangkat gagasannya tentang konsep metafisika eksakta ini. Pada tahun 1956 didirikanlah Akademi Metaphysika di Medan, yang kemudian berubah nama menjadi Universitas Pembangunan Panca Budi (UNPAB) pada 1961.

UNPAB merupakan salah satu perguruan tinggi tertua di Sumatera Utara, dan saat itu mempunyai Fakultas Ilmu Kerohanian dan Metafisika, yang merupakan satu-satunya perguruan tinggi di dunia yang memiliki fakultas metafisika. Saat ini Ilmu Metafisika telah menjadi mata kuliah wajib di seluruh fakultas dan program studi, di mana UNPAB kini memiliki 4 fakultas dan 20 program studi. Di kampus tersebut juga terdapat Perguruan Panca Budi dengan berbagai jenjang pendidikan, yaitu TK/PAUD, SD, SMP, SMA, SMK Teknologi dan SMK Bisnis serta Manajemen.

Buku dan Seminar

Selain telah menulis 19 buku terkait tema tawasuf dan metafisika eksakta, Syaikh Kadirun Yahya sering mengadakan forum ilmiah maupun diundang sebagai pemakalah sekaligus pembicara dalam berbagai forum ilmiah seminar skala nasional dan internasional di berbagai perguruan tinggi di Jawa dan Sumatera.

Pemikiran, sosok kepribadian, dan pola dakwah Syaikh Kadirun Yahya yang unik dan berbeda dengan ulama-ulama pada umumnya ini, juga banyak diteliti dan ditulis para akademisi, peneliti, dan penulis, baik dari Indonesia maupun luar negeri. Tak kurang dari 50 tulisan ilmiah dalam bahasa Indonesia, bahasa Melayu, maupun bahasa Inggris, berupa skripsi, thesis, disertasi, makalah forum ilmiah, jurnal, sampai buku, yang telah mengulas pemikiran Syekh Kadirun Yahya, sosok pribadi dan perjalanan spiritualnya, maupun pergerakannya dalam dakwah tarekat.

Arus Baru Riset Dunia

Dalam sesi penutup seminar, Syaikh H. Ahmad Baqi Arifin menyampaikan, “Kita perlu bersyukur, bahwa Syaikh Kadirun Yahya sebagai ulama sufi asli nusantara, telah meletakkan pondasi paradigma berpikir baru bagi dunia Islam, melalui rumusan Beliau tentang energi tak terhingga dalam dzikrullah. Hari ini hal tersebut sejalan dengan arus baru yang makin berkembang di dunia ilmu pengetahuan, tentang riset-riset mengenai meditasi yang sangat terkait dengan teori kuantum dan teori relativitas dalam ilmu fisika.”

Dicontohkannya, bahwa di berbagai negara barat, sejak tahun 70-an sampai hari ini telah dilakukan ratusan riset yang menghabiskan total biaya hingga jutaan dollar, mengenai meditasi personal maupun meditasi kolektif, dan dampak meditasi terhadap berbagai hal, mulai terhadap kesehatan, psikologi, pertanian, peternakan, sampai pada ranah sosial seperti tingkat kriminalitas, konflik sosial, peperangan, dan lain-lain.

Dzikir yang dilakukan para pengamal tasawuf di berbagai tarekat, baik yang dikerjakan secara personal maupun berjamaah, masuk dalam kategori aktivitas meditasi, yang seharusnya dapat diriset secara ilmiah dan diukur, seperti apa dampaknya, baik bagi pribadi pelakunya maupun bagi lingkungan sekitarnya.

“Orang barat tidak memiliki tradisi meditasi, mereka mengimpor-nya dari negeri-negeri timur dan merisetnya. Kita sebagai umat Islam yang memiliki metode meditasi dalam peramalan tarekat seharusnya juga bisa merisetnya untuk kemaslahatan umat manusia dalam rangka mewujudkan Islam rahmatan lil alaamin,” pungkas Syaikh H. Ahmad Baqi Arifin menutup sesi paparannya dalam seminar.

Seminar Metafisika Eksakta “Menggali Pemikiran Prof. DR. H. Sayyidi Syaikh Kadirun Yahya” ini diselenggarakan di Hotel Sahid Mandarin, Kota Pekalongan, Jawa Tengah, yang dihadiri secara terbatas untuk 35 orang peserta, dari kalangan para pengamal tasawuf berbagai kelompok tarekat.

Syaikh H. Ahmad Baqi Arifin sendiri hadir di Kota Pekalongan sebagai perwakilan dari Jam’iyyah Ahluth Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah (JATMAN) Sumatera Utara, untuk mengikuti kegiatan perhelatan Muktamar Sufi Internasional atau Multaqo Sufi Al-Alami (World Sufi Assembly Conference 2023), yang diselenggarakan oleh Jam’iyyah Ahluth Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah (JATMAN), dan dihadiri oleh delegasi ulama-ulama sufi dunia dari 40 negara.(mtb).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *