JAKARTA, TIVIBALI.com – Sektor Jasa Keuangan (SJK) nasional menunjukkan resiliensi di tengah ketidakpastian geopolitik dan tekanan inflasi. Hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan Otoritas Jasa Keuangan 1 Juli 2026 menegaskan stabilitas SJK tetap terjaga, sekaligus menjadi modal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi domestik.
Ketegangan di Timur Tengah mereda sehingga harga minyak kembali mendekati level sebelum konflik. Risiko gangguan pasokan energi berkurang, meski OJK mengingatkan stabilitas kawasan masih rawan eskalasi baru. Sementara perekonomian global tumbuh divergen. AS resilien dengan pasar tenaga kerja kuat tapi inflasi naik, Tiongkok masih berat di konsumsi dan investasi swasta, Eropa tertahan permintaan lemah meski manufaktur mulai pulih.
Lembaga global menurunkan proyeksi. OECD merevisi outlook pertumbuhan 2026 ke 2,8 persen, World Bank ke 2,5 persen. Prospek bisa makin turun jika konflik memanjang atau gangguan komoditas energi berkepanjangan. Kondisi itu menekan risk appetite investor global dan memengaruhi arus modal ke pasar keuangan.
Di domestik, tekanan inflasi mulai naik, PMI manufaktur melemah, surplus dagang menyempit, dan cadangan devisa turun. Namun bauran kebijakan fiskal-moneter menjaga stabilitas tetap terjaga. Pasar saham Juni 2026 masih konsolidasi. IHSG ditutup 5.643,19, terkoreksi 7,90 persen mtm dan 34,74 persen ytd. Likuiditas pasar terjaga dengan bid-ask spread 1,75 persen dan RNTH Rp22,23 triliun. Investor asing net sell Rp19,63 triliun.
Pasar obligasi ikut terkoreksi. ICBI ditutup 429,85, turun 1,69 persen mtm. Yield SBN naik rata-rata 40 bps mtm. Dinamika itu tak menyurutkan minat asing ke SBN yang justru net buy Rp22,43 triliun. Industri pengelolaan investasi moderasi. AUM per 30 Juni 2026 Rp1.011,81 triliun, turun 3,14 persen mtm. NAB reksa dana Rp652,90 triliun dengan net redemption Rp23,75 triliun mtm.
Kinerja intermediasi perbankan justru menguat. Kredit Mei 2026 tumbuh 11,51 persen yoy ke Rp8.918 triliun, ditopang kredit investasi 21,95 persen dan kredit korporasi 18,39 persen. Kredit UMKM mulai membaik tumbuh 0,60 persen yoy. DPK naik 13,49 persen yoy ke Rp10.294 triliun. Likuiditas memadai dengan AL/NCD 108,20 persen dan LCR 186,54 persen. Kualitas aset terjaga, NPL gross 2,17 persen, NPL net 0,84 persen, CAR 23,74 persen.
OJK juga memperkuat penegakan hukum. OJK minta perbankan lakukan EDD dan blokir ±36.191 rekening terindikasi judi daring, serta menutup rekening sesuai NIK pelaku. Izin usaha BPR Ceper Permata Artha dicabut 25 Juni 2026. Penyidik OJK menyita 41 aset kasus perbankan syariah di Medan sebagai upaya asset recovery. Di sektor asuransi dan dana pensiun, RBC asuransi jiwa 481,20 persen dan umum 319,12 persen, jauh di atas ambang 120 persen. OJK sahkan DPLK Sinarmas Asset Management sebagai DPLK pertama dari Manajer Investasi dan siap tindaklanjuti putusan MK terkait manfaat pensiun dana pensiun sukarela. (mtb)

Tinggalkan Balasan