MANGUPURA, TIVIBALI.com – Di tengah maraknya produk modern, gerabah tradisional Bali masih bertahan. Di Banjar Basang Tamiang, Desa Kapal, Kabupaten Badung, usaha gerabah warisan leluhur sejak 1970-an tetap lestari dan jadi penopang ekonomi keluarga.

Salah satu penerusnya adalah Nyoman Subarana. Baginya, membuat gerabah bukan sekadar mencari nafkah, tetapi juga tanggung jawab menjaga tradisi agar tidak punah.

“Dari usaha inilah kami membesarkan keluarga. Hasilnya untuk kebutuhan sehari-hari, biaya sekolah anak, sampai bantu keluarga besar. Kami ingin usaha ini bisa diwariskan ke generasi berikutnya,” kata Subarana, Kamis 13 Agustus 2026.

Keahlian membentuk tanah liat ia pelajari langsung dari orang tua. Awalnya berskala rumahan, kini usahanya berkembang dan mempekerjakan 8 orang tenaga kerja dari lingkungan keluarga.

Produk yang dihasilkan meliputi payuk pere, coblong, dulang, carat, hingga perlengkapan upacara adat lainnya. Semua berbahan tanah liat dan digunakan dalam odalan, piodalan, hingga upacara ngaben.

Permintaan paling besar datang saat musim pengabenan. Dalam sekali pesan, pelanggan tetap bisa memesan hingga 4.000 buah berbagai jenis gerabah. Pesanan rutin masuk setiap 2-3 minggu sekali.

“Kalau ada upacara besar, pesanannya bisa ribuan. Pembeli biasanya datang langsung atau pesan dulu karena sudah langganan,” ujarnya.

Pemasaran menjangkau seluruh Bali. Pengepul dan pelanggan datang langsung ke lokasi untuk mengambil pesanan sesuai kebutuhan upacara.

Tantangan terbesar ada di bahan baku. Tanah liat didatangkan dari berbagai wilayah di Bali. Sekali beli, Subarana butuh modal sekitar Rp1 juta.

Proses produksinya masih manual. Gerabah dibentuk tangan, dijemur di bawah matahari, lalu dibakar dengan kayu bakar dan jerami. Satu kali pembakaran bisa memuat ratusan unit.

Untuk memperkuat modal kerja, Subarana memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat atau KUR BRI sebesar Rp100 juta dengan tenor 5 tahun. Dana itu dipakai membeli bahan baku di awal, agar produksi tidak terhambat saat pesanan naik.

“KUR sangat membantu, terutama ketika pesanan sedang banyak. Modal bisa dipakai beli bahan baku lebih awal,” ungkapnya.

Regional CEO BRI Region 17 Denpasar Hery Noercahya menyebut, BRI berkomitmen mendukung UMKM yang punya nilai ekonomi sekaligus menjaga budaya daerah.

“Pak Nyoman Subarana bukan hanya menjalankan aktivitas ekonomi, tetapi juga menjaga keberlanjutan tradisi puluhan tahun. Melalui KUR, kami pastikan mereka punya akses permodalan agar kapasitas usaha naik tanpa meninggalkan nilai budaya,” ujar Hery.

Menurutnya, usaha berbasis kearifan lokal punya efek berganda. Selain buka lapangan kerja, juga menghidupkan rantai pasok mulai dari penyedia bahan baku sampai pemenuhan kebutuhan upacara adat.

“BRI percaya UMKM berbasis budaya memiliki daya tahan kuat karena tumbuh bersama kebutuhan masyarakat. Kami akan terus perluas akses pembiayaan produktif agar pelaku usaha tradisional semakin berkembang dan sejahtera,” tutupnya. (mtb)