SANUR, TIVIBALI.com- Wakil Bupati Gianyar Anak Agung Gde Mayun membuka pameran kolektif Himpunan Perupa Payangan (HPP) bertajuk Udhar Banda Karma di Santrian Art Gallery, Jalan Danau Tamblingan No.47 Sanur, Jum’at (18/9/2026).
Pameran berlangsung 18 September hingga 31 Oktober 2026. Sebanyak 38 karya dari 18 perupa Payangan dipamerkan dalam bentuk karya lukisan, selain itu patung figural karya I Made Suparta dan patung Gajah Mina juga ikut mewarnai Santrian Art Gallery.
Pameran ini menjadi penanda pergeseran penting bagi HPP. Setelah sebelumnya di Ubud menguji energi internal lewat filosofi Bayu-Idep-Karma, kali ini di Sanur mereka membawa ujian ke wilayah pesisir dengan agenda yang lebih radikal: mengurai pakem.
Wakil Bupati Gianyar Anak Agung Gde Mayun mengapresiasi HPP yang telah menghadirkan ruang ekspresi dan dialog melalui karya seni rupa. Ia menilai tema Udhar Banda Karma memiliki semangat untuk melihat kembali tradisi bukan sebagai sesuatu yang diterima secara pasif, melainkan sebagai warisan yang direnungkan, dibangkitkan kembali, dan dikembangkan dalam konteks lain.
“Tema yang diusung memiliki makna yang sangat menarik, ada semangat untuk melihat kembali tradisi. Bukan semata-mata sebagai sesuatu yang harus kita terima secara pasif, tetapi sebagai warisan yang dapat kita renungkan, bangkitkan kembali dan kita kembangkan dalam konteks yang lain,” ujar Anak Agung Gde Mayun.
Menurutnya, tradisi akan tetap hidup apabila ada dialog dengan seni dan ekosistemnya. Di dalamnya harus ada seniman, ada ruang, ada apresiasi, ada dialog, dan ada masyarakat yang menikmati serta memaknai karya tersebut.
Ia menegaskan Pemerintah Kabupaten Gianyar berkomitmen memberi ruang bagi seniman dan pelaku budaya untuk berkarya, berekspresi, berinovasi, sekaligus memperkenalkan kekayaan seni budaya Gianyar kepada publik yang lebih luas. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Santrian Art Gallery yang telah memberi tempat memantapkan langkah para perupa untuk menunjukkan karya terbaiknya.
Ketua HPP I Made Dolar Astawa menyebut pameran di Sanur sebagai tonggak sejarah bagi komunitasnya. Laku Udhar Banda Karma dimaknai sebagai upaya bersama mengurai belenggu pakem, melonggarkan ruang kreativitas, dan mendobrak batas geografis demi masa depan seni rupa Payangan yang lebih terbuka.
Ia menjelaskan 38 karya yang tersaji merangkum keberagaman karakter perupa Payangan, mulai dari lukisan yang setia menjaga nyala api tradisi, estetika modern, pelepasan menuju abstrak, hingga dinamika seni patung. Keberagaman itu menjadi kekuatan HPP sebagai keluarga besar.
Owner Santrian Art Gallery Ida Bagus Gede Sidharta Putra menyampaikan kehormatan bagi pihaknya menjadi singgasana bagi karya perupa asal Payangan, Ia menilai Sanur dan Payangan memang dipisahkan jarak geografis antara pegunungan yang sejuk dan pesisir yang dinamis, namun melalui seni rupa menjadi pertemuan indah dua karakter.
Tercatat pameran diikuti oleh 18 perupa: I Made Dolar Astawa, I Made Suparta, I Nyoman Suandi, I Ketut Arka, I Gede Susilayasa (De Sila), I Nyoman Suardina, I Ketut Sunama, I Wayan Badra, I Gusti Putu Dyatmika, I Made Ariasa, I Made Jongko, Ngakan Ketut Suarbawa, Ngakan Made Sudarsana, I Komang Sudiarta (Loster), I Made Jendra, I Wayan Putrayasa, I Nyoman Sumendra (Rai Sumendra), dan I Wayan Merta. (MAW)

Tinggalkan Balasan