Oleh : Ari Supit

JAKARTA, TIVIBALI.com – Ikhtiar Prabowo Menghadirkan Pelayanan Indonesia, Menjaga Kenyamanan Jemaah, dan Menanam Kebanggaan di Makka, (9/9/2025).

Ada kerinduan yang selalu ikut berangkat bersama setiap jemaah haji Indonesia menuju Tanah Suci. Mereka meninggalkan rumah, keluarga, kampung halaman, makanan yang akrab, bahasa yang sehari-hari terdengar, lalu menempuh perjalanan panjang menuju Makkah untuk memenuhi panggilan ibadah. Di tengah jutaan manusia dari berbagai penjuru dunia, ada harapan sederhana yang justru terasa begitu berarti: setelah seharian beribadah dan berjalan di kota suci, mereka dapat kembali ke tempat tinggal yang aman, nyaman, tertata, dan menghadirkan sedikit rasa dekat dengan tanah air.

Gagasan Kampung Haji Indonesia itu tidak semestinya berhenti pada pembangunan gedung penginapan. Inpres Nomor 15 Tahun 2025 menempatkan pembangunan Kampung Haji Indonesia di Makkah sebagai langkah terpadu untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan kenyamanan jemaah haji dan umrah Indonesia. Semangat tersebut dapat diterjemahkan lebih jauh menjadi sebuah kawasan yang hidup, terintegrasi, dan benar-benar hadir untuk menjawab kebutuhan jemaah.

Dari Tempat Menginap Menjadi Ekosistem Pelayanan

Presiden Prabowo Subianto mendorong Kampung Haji sebagai ikhtiar jangka panjang untuk memperbaiki pelayanan jemaah Indonesia. Pemerintah telah mengakuisisi hotel di kawasan Thakher dengan 1.461 kamar dalam tiga menara, serta lahan sekitar lima hektare yang direncanakan untuk pengembangan 13 menara dan satu mal. Jika seluruh pengembangan berjalan sesuai rencana, kawasan tersebut diproyeksikan mampu melayani lebih dari 23.000 jemaah.

Namun, angka-angka itu baru berbicara tentang kapasitas. Makna sesungguhnya akan terasa ketika kawasan tersebut mampu membentuk ekosistem pelayanan yang utuh. Dari tempat tinggal, makanan, kesehatan, transportasi, informasi dan manasik, hingga pelayanan bagi jemaah lanjut usia dan penyandang disabilitas. Di dalamnya dapat hadir pula layanan banking dan keuangan, telekomunikasi serta konektivitas digital, perdagangan dan kebutuhan harian, hingga dukungan logistik yang membuat berbagai keperluan jemaah dapat dipenuhi dengan mudah.

Dengan begitu, Kampung Haji bukan sekadar kawasan akomodasi. Ia dapat menjadi ekosistem pelayanan jemaah Indonesia di Makkah — dikelola secara profesional, terhubung dengan berbagai layanan, tetapi tetap memiliki sentuhan kemanusiaan.

Sebab, kehadiran negara sesungguhnya paling mudah dirasakan bukan melalui kemegahan bangunan, melainkan ketika seorang jemaah tahu ke mana harus mencari pertolongan saat sakit, mudah mendapatkan informasi ketika kebingungan, dapat berkomunikasi dengan keluarga, memperoleh makanan yang sesuai, atau merasa aman ketika berada jauh dari rumah.

Menghadirkan Nyaman, dengan Rasa yang Akrab

Ada cerita-cerita kecil dari perjalanan jemaah haji Indonesia yang menunjukkan betapa kuat hubungan manusia dengan rasa rumah. Ada jemaah yang membawa rice cooker dari tanah air. Ada yang menyelipkan rendang, teri, abon, sambal, dan makanan kesukaan keluarga ke dalam barang bawaan. Bukan sekadar soal makanan. Di balik itu ada kerinduan untuk membawa sedikit kenangan rumah ketika harus tinggal jauh dari keluarga dan kampung halaman.

Dari hal sederhana itu kita belajar bahwa rasa nyaman sering kali tumbuh dari sesuatu yang akrab. Karena itu, kawasan Kampung Haji idealnya memiliki ruang kuliner Indonesia yang tertata dan beragam, dengan makanan yang dekat dengan lidah jemaah dari berbagai daerah. Nasi hangat, masakan Nusantara, minuman yang familiar, serta ruang makan yang nyaman dapat menjadi bagian dari pengalaman jemaah setelah menjalani rangkaian ibadah.

Bayangkan seorang jemaah pulang setelah beribadah. Ia memasuki kawasan yang tertata, bertemu petugas yang ramah, terhubung dengan keluarganya melalui layanan telekomunikasi yang baik, kemudian menikmati makanan yang akrab sambil berbincang dengan jemaah lain. Ia mungkin hanya membutuhkan hal-hal sederhana, tetapi justru dari kesederhanaan itulah ketenangan tumbuh.

Kenyamanan juga dapat diperkuat dengan hadirnya layanan banking dan pembayaran digital, pusat kebutuhan harian, layanan kesehatan, ruang istirahat, fasilitas informasi, hingga berbagai layanan pendukung lainnya. Semuanya tidak perlu terasa berlebihan. Yang penting adalah mudah ditemukan, mudah digunakan, dan benar-benar menjawab kebutuhan jemaah.

Kampung Haji dengan demikian tidak perlu menjadikan Makkah seperti Indonesia. Justru sebaliknya, kawasan ini harus tetap menghormati karakter dan tata kehidupan Arab Saudi. Identitas Indonesia hadir melalui pelayanan, keramahan, kuliner, budaya, teknologi, dan cara melayani — bukan dengan mengubah wajah negeri tempat ia berada.

Jejak Identitas yang Menyatu dengan Tanah Suci

Jika Kampung Haji ingin menjadi kebanggaan nasional, kawasan ini membutuhkan ruang yang menjadi titik temu sekaligus wajah pelayanan Indonesia. Bukan sebuah “rumah” dalam pengertian harfiah, melainkan sebuah pusat layanan dan ruang publik yang mencerminkan keramahan Indonesia.

Dalam konteks itu, ada gagasan nama yang menarik dan memiliki sentuhan sejarah: Dar Al-Jawi (دار الجاوي), atau alternatifnya Hayy Al-Jawi (حي الجاوي). Keduanya terasa lebih menyatu dengan lingkungan bahasa setempat sekaligus membawa jejak identitas masyarakat kepulauan Asia Tenggara yang dalam khazanah Arab secara historis dikenal dengan istilah Jawi.

Nama Dar Al-Jawi memiliki nuansa yang lembut dan berkelas. Ia tidak membawa nama Indonesia secara harfiah ke ruang publik di negeri orang, tetapi tetap menyimpan identitas Indonesia melalui sebuah istilah yang memiliki akar sejarah dalam hubungan masyarakat kepulauan dengan dunia Arab. Sementara Hayy Al-Jawi memberikan nuansa yang lebih dekat dengan pengertian lingkungan atau kawasan.

Jika kelak dipandang sesuai dan mendapat persetujuan otoritas Arab Saudi, nama semacam ini dapat menjadi identitas yang menarik bagi sebuah kawasan pelayanan jemaah Indonesia. Bukan untuk mengubah wajah Makkah, apalagi mengeklaim ruang di dalamnya, tetapi untuk menghadirkan jejak sejarah dan persahabatan yang telah lama terjalin antara masyarakat Jawi dan Tanah Suci.

Di dalam kawasan itu dapat hadir pusat informasi dan pelayanan, ruang pembinaan dan manasik, kuliner Indonesia, produk UMKM halal, layanan kesehatan, banking, telekomunikasi, konektivitas digital, serta berbagai kebutuhan jemaah lainnya. Unsur budaya Indonesia dapat hadir secara halus melalui desain, keramahan, kuliner, dan pelayanan, dengan tetap menyatu dengan karakter Makkah.

Dengan cara demikian, identitas Indonesia hadir secara lebih dewasa. Bukan dengan membawa seluruh suasana Indonesia ke negeri orang, melainkan dengan menunjukkan bahwa Indonesia mampu hadir sebagai bangsa yang tertib, ramah, modern, profesional, dan menghormati tempat di mana ia menjadi tamu.

Rosan Roeslani dan Tugas Mengawal Gagasan Besar

Gagasan sebesar ini membutuhkan pengawalan yang serius karena Kampung Haji berada di persimpangan antara pelayanan publik, investasi, hubungan antarnegara, pengelolaan aset, dan tata kelola bisnis. Presiden Prabowo menugaskan CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, untuk mengawal perkembangan proyek tersebut.

Dalam kunjungannya ke Arab Saudi, Rosan meninjau sejumlah pilihan lahan dan berkoordinasi dengan berbagai otoritas Saudi untuk memastikan aspek lokasi, legalitas, teknis, keamanan, hingga keberlanjutan proyek. Pada 6 Agustus 2026, Rosan kembali melaporkan perkembangan Kampung Haji kepada Presiden. Proyek tersebut telah memasuki tahap pemilihan arsitek dan penyusunan ilustrasi desain.

Peran Rosan bukan sekadar memastikan tanah, bangunan, dan investasi tersedia. Tantangan yang lebih besar adalah memastikan seluruh investasi tersebut memiliki nilai pelayanan yang panjang. Setiap rupiah yang ditanamkan harus kembali dalam bentuk manfaat yang nyata: pelayanan yang lebih baik, pengelolaan yang efisien, kawasan yang produktif, dan kenyamanan bagi jemaah.

Danantara dapat menjadi penggerak ekosistem itu dengan mempertemukan investasi, teknologi, banking dan layanan keuangan, telekomunikasi, kesehatan, transportasi, perdagangan, kuliner, UMKM, dan berbagai sektor pendukung lainnya. Dengan cara demikian, Kampung Haji tidak berdiri sebagai proyek yang terpisah, melainkan sebagai ekosistem yang saling menghidupkan.

Ketika Negara Hadir Lebih Dekat

Kampung Haji Indonesia berbicara tentang dua hal yang sangat manusiawi: pelayanan dan kerinduan. Negara membutuhkan sistem haji yang semakin baik, sementara jemaah membutuhkan tempat yang membuat mereka merasa aman dan tenang selama menjalankan ibadah.

Kebanggaan terhadap Kampung Haji bukanlah tentang seberapa tinggi menaranya atau seberapa megah bangunannya. Kebanggaan itu akan tumbuh ketika seorang jemaah lanjut usia mudah mendapatkan bantuan; ketika keluarga di tanah air merasa tenang; ketika makanan yang tersedia terasa akrab; ketika koneksi komunikasi tidak menjadi persoalan; ketika transaksi dan kebutuhan sehari-hari dapat dilakukan dengan mudah; ketika informasi tersedia dengan jelas; dan ketika seluruh sistem bekerja tanpa membuat jemaah merasa sendirian di negeri orang.

Itulah yang membuat Kampung Haji layak menjadi salah satu simbol penting Indonesia di era Presiden Prabowo. Bukan karena Indonesia ingin membawa tanah airnya ke Makkah, melainkan karena negara ingin membawa pelayanan terbaiknya mendekat kepada rakyat yang sedang menjalankan ibadah.

Kelak, mungkin ada seorang jemaah yang selepas salat dan berdoa di Masjidil Haram berjalan kembali menuju kawasan Kampung Haji. Ia mendengar bahasa yang akrab, melihat wajah-wajah sebangsa, terhubung dengan keluarganya, menikmati makanan yang dikenalnya, lalu tersenyum kecil.

Bukan karena Makkah berubah menjadi Indonesia. Bukan pula karena Indonesia ingin menjadi bagian dari tanah tempat ia bertamu. Tetapi karena di tengah jauhnya perjalanan, ia menemukan pelayanan yang membuat hati lebih tenang.

Kampung Haji Indonesia bukan semata tempat jemaah tinggal. Ia adalah ikhtiar menghadirkan pelayanan yang manusiawi, ekosistem yang modern, dan jejak Indonesia yang hangat — dengan tetap menghormati Makkah sebagai Tanah Suci dan Arab Saudi sebagai negeri tempat Indonesia datang untuk memenuhi panggilan ibadah. (MAW)