MEDAN, TIVIBALI.com- Ada rindu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Rindu yang setiap kali disebut namanya, air mata jatuh lebih dulu sebelum bibir sempat berucap.
Itulah Rindu Baitullah
Rindu kepada sebuah rumah yang belum pernah kita pijak lantainya, namun terasa begitu dekat di hati. Rindu kepada Ka’bah yang hanya kita lihat dari layar kaca dan foto di dinding musholla, tapi setiap melihatnya dada sesak menahan haru.
Ya Allah, betapa banyak di antara kami yang memanggil-Mu setiap malam dengan doa yang sama, “Ya Allah, undang aku ke rumah-Mu…”
Bukan karena kami orang paling saleh, bukan karena amal kami sudah banyak. Justru karena kami sadar, kami hanyalah hamba yang penuh dosa, yang rindu ingin kembali membersihkan diri di tempat yang Engkau muliakan. Di tempat di mana doa tidak ada hijab, di tempat di mana air mata menjadi saksi taubat.
Kami rindu bersimpuh di Multazam, tempat yang katanya setiap doa akan diijabah. Kami ingin menumpahkan semua cerita yang selama ini hanya kami pendam dalam sujud-sujud panjang di rumah. Tentang lelahnya dunia, tentang luka yang tak terlihat, tentang harapan yang kami titipkan hanya kepada-Mu.
Kami rindu thawaf mengelilingi Ka’bah, melangkah dengan kaki gemetar sambil berbisik, “Labbaik Allahumma Labbaik, aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah.”
Kami rindu minum air Zam-zam langsung dari sumbernya, air yang tak pernah habis sejak ribuan tahun lalu, air yang menjadi saksi keikhlasan Sayyidah Siti Hajar.
Di tahun 2027, Indonesia kembali mendapat amanah besar sebagai negara dengan jamaah haji terbanyak di dunia. Pemerintah melalui Kementerian Haji dan Umrah menetapkan kuota haji Indonesia sebanyak 221.000 jamaah, terdiri dari 203.320 jamaah haji reguler dan 17.680 jamaah haji khusus. Di antara ratusan ribu manusia yang beruntung mendapat undangan itu, ada jutaan hati lain yang masih antre dalam rindu, termasuk penulis.
Ya Rabb…
Jika rezeki kami belum cukup, cukupkanlah. Jika langkah kami belum mampu, mampukanlah. Jika hati kami belum pantas, pantaskanlah.
Karena kami yakin, Haji dan Umroh bukan soal siapa yang punya uang paling banyak, siapa yang fisiknya paling kuat. Tapi ini murni soal undangan. Dan undangan itu hanya Engkau yang berhak memberikannya.
Maka hari ini, dari rumah kecil kami, dari sajadah yang sudah usang ini, kami titipkan rindu ini kepada-Mu. Ada harapan besar, semoga tahun depan nama kami termasuk dalam daftar tamu-Mu. Semoga Engkau izinkan kaki ini menginjak Tanah Suci, melihat Ka’bah dengan mata kepala sendiri.
Dan jika Engkau sudah undang kami, bimbing kami agar pulang membawa perubahan. Jadikan kami haji yang mabrur, haji yang kehadirannya membuat keluarga lebih teduh, lisan lebih terjaga, tangan lebih ringan membantu sesama, dan hati lebih dekat kepada-Mu. Haji yang berdampak, menjadi pribadi yang lebih baik setelah kembali ke tanah air.
Undanglah kami ya Allah, undanglah kedua orang tua kami, undanglah anak-anak dan pasangan kami.
Jangan Engkau wafatkan kami sebelum engkau izinkan kami melihat Ka’bah, mencium Hajar Aswad, berdoa di Raudhah, dan menangis di depan rumah-Mu.
Aamiin ya Rabbal ‘Aalamin.
Penulis : Nur Hafni

Tinggalkan Balasan