MEDAN, TIVIBALI.com – Di tengah definisi istirahat modern yang identik dengan rebahan, scroll media sosial hingga liburan, Rasulullah SAW 14 abad lalu telah memberikan definisi yang jauh berbeda.
Qum Ya Bilal, fa arihna bish sholah, sabda Rasulullah yang diriwayatkan dalam Sunan Abu Dawud No. 4986. Wahai Bilal, berdirilah dan istirahatkan kami dengan sholat.
Bagi pandangan umum, sholat sering dianggap memotong waktu istirahat. Namun dalam perspektif kenabian, sholat itu sendiri adalah bentuk istirahatnya.
Sholat Sebagai Rest Area Spiritual
Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali dalam kitab monumentalnya Ihya Ulumuddin Juz I menjelaskan hakikat sholat sebagai munajat, yaitu dialog langsung seorang hamba dengan Rabb-nya. Di sanalah tempat meletakkan segala kegelisahan duniawi. Konsep inilah yang membuat sholat menjadi rest area spiritual dalam laju hidup yang kencang.
Lantas, mengapa sholat disebut sebagai istirahat paling jujur?
Mengistirahatkan Pikiran
Seharian pikiran dipaksa bekerja memikirkan pekerjaan, kewajiban, hingga memikirkan kebutuhan keluarga. Saat takbiratul ihram Allahu Akbar diucapkan, secara psikologis seorang hamba sedang mengagungkan asma Allah yang Maha Besar.
Ulama, sastrawan dan filsuf Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menjelaskan bahwa sholat berfungsi sebagai benteng pertahanan jiwa. Ketika sholat dilupakan, pertahanan jiwa akan bocor sehingga seseorang mudah dikuasai hawa nafsu. Sholat menjadi stasiun penjaga agar jiwa tetap kokoh dalam perjuangan hidup.
Mengistirahatkan Hati
Hati lelah karena terlalu sering berharap pada manusia. Ulama kontemporer Dr. Aidh Al-Qarni dalam buku best seller La Tahzan menyebutkan ketenangan hati hanya didapat dengan mengingat Allah.
Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam QS. Ar-Ra’d ayat 28: Alaa bidzikrillahi tathmainnul qulub – Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.
Posisi sujud, sebagai posisi terendah seorang hamba, justru menjadi titik terdekat dengan Allah, sebagaimana disebutkan dalam Hadis Riwayat Muslim No. 482.
Mengistirahatkan Raga Secara Medis
Secara medis, gerakan sholat adalah terapi holistik. Pakar anatomi Prof. Dr. dr. M. Thohari, Sp.B. dalam karyanya Atlas Anatomi Gerakan Sholat menjelaskan gerakan takbir, ruku’, sujud, dan duduk di antara dua sujud mampu melancarkan peredaran darah, melenturkan otot punggung, dan melatih pernapasan diafragma.
Sholat tidak membuat lelah, justru mengembalikan energi yang hilang.
Pada akhirnya, Allah telah menyediakan lima pemberhentian resmi setiap hari bukan sebagai beban, melainkan sebagai fasilitas keselamatan agar manusia tidak kecelakaan dalam laju hidup yang terlalu kencang.
Penulis : Nur Hafni

Tinggalkan Balasan