DENPASAR, TIVIBALI.com – Keyakinan konsumen Bali tetap berada di zona optimis pada September 2026. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Bali tercatat 122,75, berada di atas ambang optimis 100 dan lebih tinggi dari IKK nasional yang sebesar 118,10.

Meski sedikit menurun dari Agustus 2026 yang sebesar 123,08, optimisme masyarakat Bali tetap terjaga. Penurunan tipis itu dinilai sebagai proses normalisasi setelah puncak kunjungan wisatawan pada Agustus lalu.

Kuatnya optimisme ditopang kinerja pariwisata yang masih menjadi penggerak utama ekonomi Bali. Aktivitas wisatawan yang tetap tinggi menopang perdagangan, transportasi, akomodasi, dan sektor jasa lainnya.

Berdasarkan kelompok pengeluaran, optimisme tertinggi datang dari responden dengan pengeluaran Rp5-6 juta dan Rp2-3 juta per bulan yang mencatat peningkatan keyakinan. Dari status pekerjaan, baik pekerja formal dengan indeks 120,3 maupun informal 125,7 tetap berada di level optimis.

Secara rinci, optimisme didorong menguatnya Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK). IEK naik 1,69 persen secara bulanan dari 128,17 pada Agustus menjadi 130,33 pada September. Kenaikan ditopang tiga komponen, yakni perkiraan penghasilan sebesar 129,0, perkiraan ketersediaan lapangan kerja 130,50, dan perkiraan kegiatan usaha 131,50.

Di sisi lain, pelemahan IKK dipengaruhi melambatnya Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE). IKE turun 2,40 persen dari 118,0 pada Agustus menjadi 115,17 pada September. Penurunan bersumber dari persepsi ketersediaan lapangan kerja saat ini dibanding enam bulan lalu sebesar 123,0, penghasilan saat ini 122,00, serta konsumsi barang tahan lama 100,50.

Bank Indonesia menilai, meski IKE melambat, peningkatan IEK menjadi sinyal bahwa masyarakat masih yakin prospek pendapatan, lapangan kerja, dan kegiatan usaha dalam enam bulan ke depan tetap baik.

Ke depan, stabilitas harga menjadi kunci menjaga daya beli. Inflasi Bali pada September 2026 tercatat 3,79 persen year on year, sedikit di atas sasaran nasional 2,5±1 persen. Karena itu sinergi pengendalian inflasi dan penguatan ekonomi perlu terus diperkuat untuk menjaga konsumsi rumah tangga sebagai sumber utama pertumbuhan daerah.

Bank Indonesia Provinsi Bali menegaskan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah melalui Tim Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Daerah (TPPED) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Bali. Langkah itu diwujudkan melalui operasi pasar, pemantauan harga komoditas strategis, dan kelancaran distribusi pangan untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Bali yang inklusif dan berdaya tahan. (ad/maw)