Penulis : Yudi Latif

OPINI, TIVIBALI.com- Saya tak percaya sekolah bisa melahirkan manusia-manusia istimewa. Sekolah, pada dasarnya, hanya mengangkat kapasitas manusia hingga tingkat kecukupan: memberinya pengetahuan, keterampilan, dan cara berpikir agar mampu menjalani kehidupan.

Jika kemampuan manusia dibayangkan sebagai kurva normal, sekolah barangkali hanya mengantarkan sebagian besar orang ke sekitar garis tengah. Dan itu bukan kegagalan. Kehidupan memang membutuhkan lebih banyak orang yang cukup daripada orang yang luar biasa.

Tetapi ada jurang antara manusia yang cukup dan manusia yang ekselen. Jurang itu tak bisa diseberangi hanya dengan menambah tahun pendidikan, menumpuk gelar, atau menghafal lebih banyak buku. Sebab, pada suatu titik, pengetahuan yang diberikan orang lain mencapai batas kegunaannya. Pelajaran selesai, guru kehabisan jawaban, dan di hadapan seseorang terbentang pertanyaan yang tak tercantum dalam silabus mana pun.

Di situlah para pencari bermula.

Mereka tak puas menerima dunia sebagaimana dunia diperkenalkan kepada mereka. Mereka tak menganggap sesuatu benar hanya karena telah lama diajarkan, atau selesai hanya karena orang lain berhenti mempertanyakannya.

Mereka belajar bukan sekadar untuk memperoleh jawaban, melainkan untuk menemukan pertanyaan yang lebih dalam. Ketika orang lain melihat sebuah pintu, mereka bertanya apa yang ada di baliknya. Dan ketika pintu itu terbuka, mereka menemukan pintu-pintu lain.

Menjadi pencari bukan semata-mata perkara kecerdasan, melainkan keberanian untuk meragukan apa yang telah diketahui, termasuk keyakinan sendiri. Orang yang hanya ingin benar akan mencari pembenaran; orang yang sungguh-sungguh ingin tahu bersedia menemukan bahwa dirinya salah. Ia tak jatuh cinta pada kesimpulannya, melainkan pada kebenaran, bahkan jika kebenaran itu memaksanya meninggalkan segala yang selama ini dipercayainya.

Perjalanan itu tak selalu nyaman. Ada kesepian ketika pikiran melangkah terlalu jauh, ada kegelisahan ketika kepastian lama runtuh sementara jawaban baru belum ditemukan. Sebab semakin jauh seseorang menjelajah pengetahuan, semakin luas pula bentangan ketidaktahuannya. Pengetahuan yang mula-mula tampak sebagai cahaya, pada akhirnya justru memperlihatkan betapa luasnya wilayah yang masih gelap.

Namun para pencari terus berjalan. Mereka membawa akal hingga ke ufuk terjauhnya, bukan untuk menobatkannya sebagai penguasa segala sesuatu, melainkan untuk mengetahui sejauh mana ia sanggup memahami dunia dan di mana ia harus mengakui keterbatasannya. Mereka mencari bukan karena yakin semua misteri bisa dipecahkan, melainkan karena tak sanggup berpura-pura bahwa misteri itu tidak ada.

Sekolah dapat mengajarkan cara berpikir, buku memperluas cakrawala, dan guru menunjukkan jalan yang pernah ditempuh manusia. Tetapi tak satu pun dapat menggantikan dorongan dari dalam diri untuk melangkah lebih jauh. Tak ada ijazah yang menjamin rasa ingin tahu, sebagaimana tak ada gelar yang menjamin keberanian untuk mempertanyakan.

Pada akhirnya, yang membedakan manusia ekselen bukan semata-mata apa yang dipelajarinya, melainkan apa yang terus ditanyakannya setelah semua pelajaran berakhir.

Kebanyakan orang akan menerima dunia, menemukan tempat di dalamnya, lalu meneruskan kehidupan. Dan itu baik. Tetapi kemajuan manusia sering kali berutang kepada mereka yang menolak berhenti di tempat orang lain berhenti; mereka yang menjadikan pengetahuan sebagai pijakan untuk melompat, bukan batas untuk menetap.

Sebab manusia ekselen bukanlah manusia yang telah selesai belajar. Ia adalah manusia yang tak pernah berhenti menjadi murid—bukan semata-mata murid dari sekolah atau guru, melainkan murid dari kenyataan itu sendiri.

Ada manusia yang hidup untuk memiliki jawaban. Ada pula yang terus berjalan, bahkan ketika akalnya mencapai batas dan misteri tetap terbentang di hadapannya. Mereka tak mencari karena yakin akan menemukan segala jawaban, melainkan karena tak pernah rela berhenti bertanya. Mereka itulah para pencari. (ad/maw)