DENPASAR, TIVIBALI.com – PT Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara, Danantara Indonesia, memastikan kesiapan Proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Denpasar Raya mulai memasuki tahap konstruksi. Kepastian itu ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Jual Beli Listrik (PPA) pada Rabu, (8/7/2026). Dalam pelaksanaannya, proyek strategis ini memanfaatkan lahan milik PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo di kawasan Benoa seluas sekitar 60.502 meter persegi atau sekitar 6 hektare.

Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia Pandu Sjahrir mengatakan langkah ini merupakan tindak lanjut Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan PSEL.

“Sejak terbitnya Perpres 109/2025, PT Danantara Indonesia telah bergerak cepat untuk menyelenggarakan pengembangan PSEL Denpasar Raya secara terstruktur dan profesional,” ujarnya.

Pandu menyebut proses pemilihan mitra dilakukan secara selektif. Tahap evaluasi berlangsung pada 20-30 Januari 2026, dilanjutkan negosiasi pada 31 Januari-23 Februari 2026.

Dari 6 konsorsium yang mengajukan, seluruhnya melalui proses evaluasi dan negosiasi yang menekankan prinsip efektivitas, selektivitas, dan kehati-hatian.

“Capaian yang telah diraih antara lain penandatanganan perjanjian bersama pada 21 April 2026 dan penetapan sebagai Proyek Strategis Nasional pada 22 Mei 2026,” kata Pandu Sjahrir.

Ia menegaskan, penandatanganan PPA pada 8 Juli 2026 menandai dimulainya realisasi solusi pengelolaan sampah di Indonesia. “Ini menandai langkah awal realisasi solusi pengelolaan sampah di Indonesia yang dimulai dari Denpasar Raya,” ujarnya.

Chief Executive Officer (CEO) Danantara Rosan Roeslani menyebut PSEL Denpasar Raya ditargetkan bakal rampung pada akhir 2027. Dengan kapasitas mengolahan lebih dari 500 ribu ton sampah per tahun. Angka itu setara dengan lebih dari 40% dari total timbulan sampah di Bali.

Proyek senilai Rp3 triliun ini diproyeksikan menurunkan emisi dari tempat pembuangan akhir hingga 80% dan mengurangi emisi karbon sebesar 640 ribu ton CO2 per tahun. Kebutuhan lahan TPA juga diperkirakan berkurang hingga 80%.

Dari sisi ketenagalistrikan, PSEL akan menghasilkan energi hijau yang mampu memenuhi kebutuhan listrik sekitar 100 ribu rumah tangga di Bali. Proyek ini juga diproyeksi menyerap 1.200 tenaga kerja hijau.

Pembangunan PSEL ini diharapkan berdampak positif terhadap sektor pariwisata dan pekonomian Bali. Rosan mengajak seluruh pihak untuk mendukung terwujudnya Indonesia yang bersih, aman, sehat, dan indah. “Dimulai dari Bali,” tegasnya.

Hadir dalam kegiatan tersebut, Menteri Koordinator Bidang Pangan Dr. (H.C.) Zulkifli Hasan, S.E., M.M., Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat, Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo, Gubernur Bali Dr. Ir. I Wayan Koster, M.M., Ketua DPRD Bali Dewa Made Mahayadnya, Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara, dan Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa. (MAW)