ARTIKEL, TIVIBALI.com – Impian umat Islam Indonesia untuk menunaikan Ibadah Haji di Tanah Suci, menjadi perhatian serius Presiden Prabowo Subianto sebagai bentuk peningkatan pelayanan dan kenyamanan jamaah Haji Indonesia, pemerintah melakukan langkah kongkret melalui Kampung Haji Indonesia. Rakyat Indonesia secara resmi memiliki aset properti sendiri di Makkah, Arab Saudi.

Melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara), pemerintah mengakuisisi aset strategis di kawasan Thakher Makkah senilai 2 miliar Riyal Saudi atau setara Rp9,5 triliun. Indonesia tercatat sebagai negara asing pertama yang memiliki properti di kawasan prestisius tersebut, setelah Pemerintah Arab Saudi membuka regulasi kepemilikan real estat bagi investor asing pada Januari 2026.

Aset yang diakuisisi terdiri dari Hotel Novotel Thakher Makkah dengan 1.461 kamar dan suite di tiga menara, serta 14 bidang lahan pengembangan seluas total 4,4 hektare atau 44.088 meter persegi di Distrik Al Andalus, hanya 2,5 kilometer dari Masjidil Haram.

Hotel tersebut telah diserahterimakan pada 11 Agustus 2026, sementara penyerahan sertifikat kepemilikan lahan rampung pada 18 Oktober 2026.

Langkah ini memiliki makna besar bagi Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Berdasarkan Data Kependudukan Semester I 2026 yang dirilis Ditjen Dukcapil Kemendagri per 30 Juni 2026, jumlah penduduk beragama Islam di Indonesia mencapai 252.815.079 jiwa atau 87,14 persen dari total penduduk.

Bagi ratusan juta umat tersebut, haji adalah kerinduan spiritual terdalam.

Bukan Sekadar Investasi, Tapi Ekosistem Umat

Aset di Thakher Makkah tidak akan dikelola sebagai hotel komersial biasa. Pemerintah menyiapkan pengembangan menjadi Kompleks Bait Jemaah atau Kampung Haji Indonesia.

Danantara menargetkan pembangunan bertahap hingga 13 menara baru dengan total 6.025 kamar yang mampu menampung lebih dari 22.000 jemaah, atau sekitar 10 persen dari total kuota haji Indonesia setiap tahunnya.

“Kami ingin membangun ekosistem, bukan hanya hotel. Kawasan Thakher kami siapkan sebagai basis pengembangan layanan jamaah Indonesia yang lebih terintegrasi,” ujar Chief Investment Officer Danantara Pandu Sjahrir.

Ekosistem tersebut akan dilengkapi Pusat Layanan Medis dan Posko PPIH, Dapur Sentral bercita rasa Nusantara dengan melibatkan UMKM nasional, pusat ritel halal, hingga terminal bus shalawat mandiri yang beroperasi 24 jam. Pemerintah juga menyiapkan akses khusus melalui Terowongan Al-Hujun menuju Masjidil Haram.

CEO Danantara Rosan Roeslani menyebut proyek ini merupakan langkah awal kemitraan ekonomi jangka panjang antara Indonesia dan Arab Saudi.

Jawaban Atas Beban Biaya Haji

Selama ini, komponen pemondokan menjadi penyumbang terbesar kenaikan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) karena sistem sewa musiman yang terus meningkat setiap tahun.

Dengan paradigma baru dari penyewa menjadi pemilik, pemerintah memiliki kendali penuh untuk menekan biaya akomodasi. Di luar musim haji, aset yang sama akan dimanfaatkan untuk melayani lebih dari 2 juta jemaah umrah Indonesia setiap tahun, sehingga keuntungannya dapat diputar kembali untuk subsidi biaya haji reguler.

“Pelayanannya harus terbaik, dan saya bertekad menurunkan biaya haji untuk rakyat Indonesia,” tegas Presiden Prabowo.

Bagi lebih dari 252 juta umat Islam Indonesia, kehadiran Kampung Haji di Makkah adalah bukti perhatian yang konkret – bukan hanya soal bangunan, tapi tentang kedaulatan pelayanan dan rumah sendiri yang lebih layak dan terjangkau di Tanah Suci. (MAW)

Penulis : Moh Ali Wibowo.