DENPASAR, TIVIBALI.com – Sekretaris Daerah Kota Denpasar sekaligus Ketua Kelompok Kerja Penyelenggaraan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Eddy Mulya, menjadi narasumber pada hari kedua Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMP PGRI 2 Denpasar, Selasa (14/7/2025).

Dalam pemaparannya di hadapan lebih dari 300 siswa baru, Sekda Eddy Mulya menegaskan bahwa menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan bebas dari perundungan harus dimulai sejak hari pertama siswa masuk. Ia mengajak peserta didik baru untuk menumbuhkan sikap saling menghargai perbedaan, menjaga toleransi, dan berani bersuara jika melihat tindakan yang tidak pantas di lingkungan sekolah.

“Adik-adik semua, Budaya Sekolah Aman dan Nyaman bukan sekadar program, melainkan komitmen kita bersama untuk menciptakan rasa aman dan nyaman di sekolah. Selain tempat belajar, sekolah juga adalah rumah kedua bagi kalian untuk tumbuh, berkreasi, dan mengembangkan potensi tanpa rasa takut terhadap kekerasan, intimidasi, maupun diskriminasi,” ujar Sekda Eddy Mulya.

Ia juga menekankan bahwa rasa aman di sekolah memiliki pengaruh besar terhadap proses belajar mengajar. Ketika peserta didik merasa terlindungi, maka konsentrasi, kreativitas, dan semangat belajar akan meningkat. Dengan demikian, kualitas pendidikan dan pembentukan karakter dapat berjalan beriringan.

“Kami mengajak seluruh kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, komite sekolah, dan orang tua untuk bersama-sama membangun budaya saling menghormati dan saling peduli. Pendidikan karakter hanya dapat tumbuh dalam suasana yang aman dan nyaman,” tambahnya.

Kepala SMP PGRI 2 Denpasar, Ayu Sri Wahyuni, menyambut baik materi yang disampaikan Sekda. Menurutnya, pesan tersebut sangat relevan untuk menanamkan nilai-nilai positif kepada siswa sejak awal tahun ajaran baru.

“Kami sangat mengapresiasi kehadiran Bapak Sekda. Ini menjadi penyemangat bagi guru dan siswa untuk bersama-sama mewujudkan budaya sekolah yang aman. Ke depan kami akan membentuk tim khusus dan memasang kotak pengaduan agar siswa berani melapor,” kata Ayu Sri Wahyuni.