JAKARTA, TIVIBALI.com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) dan Satgas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas PASTI) memperkuat kerja sama regional memberantas penipuan daring. Forum Regional Expert Group Meeting on Online Scams digelar 29-30 Juni 2026 di Jakarta.
Tema yang diangkat “Strengthening Financial Intelligence, AML/CFT Regulation, and Law Enforcement Cooperation in Southeast Asia”. Forum ini mempertemukan regulator keuangan, financial intelligence units, aparat penegak hukum, bank sentral, kejaksaan, lembaga jasa keuangan, anti-scam center, hingga organisasi internasional.
Perwakilan hadir dari Indonesia dan 12 negara/yurisdiksi mitra: Singapura, Australia, Hong Kong, Brunei Darussalam, Kamboja, Laos, Malaysia, Filipina, Thailand, Timor-Leste, Inggris, dan Vietnam.
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK Dicky Kartikoyono menyebut digitalisasi keuangan memang buka peluang inklusi dan efisiensi. Tapi di sisi lain muncul celah yang dimanfaatkan pelaku kejahatan.
Menurut Dicky, penipuan digital sekarang tak bisa dilihat sebagai kejahatan tunggal. Modusnya sudah terhubung ke keuangan ilegal dan tindak pidana pencucian uang lewat berbagai kanal ekosistem digital.
“Online scams tidak lagi dapat dipandang sebagai kejahatan yang berdiri sendiri. Penipuan digital kini semakin terhubung dengan aktivitas keuangan ilegal dan tindak pidana pencucian uang, sehingga pencegahannya membutuhkan respons yang cepat, terintegrasi, dan berbasis intelijen keuangan,” ujarnya saat pembukaan, Senin (29/6).
Ia menjelaskan keuangan digital yang cepat, mudah, terbuka justru menarik pelaku. Modus yang muncul mulai investasi palsu, impersonation, phishing, social engineering, account takeover, job scams, e-commerce fraud, sampai penyalahgunaan rekening penampung.
OJK menilai respons kejahatan keuangan digital harus pakai pendekatan whole-of-government dan whole-of-ecosystem. Kejahatan bisa mulai dari media sosial, aplikasi pesan, platform digital, sebelum masuk ke bank, dompet digital, penyedia aset virtual, dan kanal keuangan internasional.
Kemitraan publik-swasta juga kunci. Dicky menekankan masa depan pencegahan bergantung pada trusted intelligence sharing, bukan sekadar tukar data terpisah. Tiap pihak punya potongan intelijen berbeda, dan kalau digabung bisa mempercepat deteksi serta pembongkaran jaringan sebelum dana ilegal kabur lintas negara.
Hasil pertemuan diharapkan dapat menjadi fondasi kerja sama regional lebih efektif untuk deteksi, pencegahan, dan penanganan scam lintas negara. Targetnya menghasilkan rekomendasi konkret yang bisa ditindaklanjuti untuk lindungi masyarakat, pulihkan aset hasil kejahatan, serta jaga stabilitas sistem keuangan ASEAN. (mtb)

Tinggalkan Balasan