DENPASAR, TIVIBALI.com – Di tengah hiruk pikuk modernitas, ribuan warga Bali berkumpul di Panggung Ardha Candra, Art Centre Denpasar pada Sabtu (1/8/2026) malam. Mereka tidak hanya datang untuk menonton konser. Mereka datang untuk merayakan Rahina Tumpek Klurut, hari yang dalam kosmologi Bali disebut sebagai Rahina Tresna Asih.
Tumpek Klurut jatuh setiap 210 hari sekali, pada Saniscara Kliwon wuku Klurut. Bagi masyarakat Bali, ini bukan sekadar penanda waktu dalam kalender Pawukon. Ini adalah jeda. Momen untuk melunakkan hati, menumbuhkan kasih sayang, dan mengembalikan harmoni hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Sang Pencipta.
Filosofi “Klurut”: Seni Memanusiakan Manusia
Kata “Klurut” berasal dari akar kata yang bermakna lembut, halus, dan penuh kasih. Para sulinggih dan para pinandita menjelaskan, Tumpek Klurut adalah hari baik untuk menumbuhkan sifat welas asih.
“Kalau Galungan merayakan kemenangan dharma, Tumpek Klurut merayakan kemenangan hati,” kata seorang pemangku yang ditemui di areal Art Centre.
Karena itulah Tumpek Klurut memiliki hubungan yang sangat erat dengan seni. Di Bali, seni tidak pernah dipisahkan dari spiritualitas. Tarian, tabuh, kidung, dan tembang bukan sekadar tontonan. Ia adalah upakara, sarana untuk menghaluskan budi pekerti. Ketika kita menari, kita melatih keselarasan tubuh dan jiwa. Ketika kita mendengarkan gending, kita melatih kesabaran dan empati.
Pemerintah Provinsi Bali memahami betul benang merah itu. Karena itu perayaan Tumpek Klurut tahun ini dikemas dalam bentuk konser rakyat gratis yang menghadirkan Bagus Wirata, Lolot Band, Joni Agung, Leeyonk Sinatra, hingga Putri Bulan.
“Malam ini kita menikmati hiburan dari para seniman dan pemain musik kita di Bali,” ujar Gubernur Bali Wayan Koster.
Bagi Koster, konser ini adalah media pendidikan. “Masyarakat Bali harus tahu apa itu Tumpek Klurut dan nilai kearifan lokal lainnya. Supaya generasi penerus memahami dan menghayati warisan leluhur yang diwariskan kepada kita semua,” tegasnya.
Dari Panggung ke Perut: Kasih Sayang yang Dirasakan
Makna Tresna Asih tidak berhenti di panggung. Ia turun ke jalan, ke dapur, dan ke ruang kelas.
Dalam rangkaian peringatan, Gubernur Koster menyerahkan “tali kasih” kepada 30 siswa-siswi SMA, SMK, dan SLB se-Bali. Bukan bantuan biasa, ini adalah simbol bahwa masa depan Bali bertumpu pada generasi muda yang hatinya lembut, tapi jiwanya kuat.
Pemprov Bali juga menggelar “Makan Tunpek Klurut” serentak di seluruh Kabupaten/Kota. Tenant-tenant yang ditunjuk membagikan hidangan gratis. Makan bersama ini adalah wujud nyata dari filosofi “menyama braya” — semua setara, semua bersaudara. Tidak ada kasta saat sendok bertemu piring.
Di saat yang sama, pelayanan kesehatan gratis juga dibuka di seluruh fasilitas kesehatan pemerintah dan swasta. Karena kasih sayang, dalam pandangan Bali, juga berarti memastikan orang lain sehat dan tidak menderita.
Pelajaran untuk Zaman Sekarang
Di era media sosial yang keras dan serba cepat, Tumpek Klurut datang sebagai pengingat, bahwa kemajuan tidak boleh membuat kita kehilangan kelembutan.
Tumpek Klurut mengajarkan tiga hal:
Pertama, mengasihi sesama. Lihatlah bagaimana 30 pelajar menerima tali kasih, bagaimana ribuan orang antre untuk racikan kopi kekinian.
Kedua, mengasihi budaya sendiri. Seni yang ditampilkan malam itu adalah cara Bali berkata: kami bangga dengan identitas budaya kami.
Ketiga, mengasihi semesta. Karena hati yang lembut akan menolak menindas, menolak merusak, dan memilih merawat dan menjaga sesama.
Ribuan warga yang bergoyang malam itu pulang bukan hanya dengan hiburan. Mereka pulang dengan pesan: di Bali menjadi kuat berarti menjadi lembut, menjadi hebat berarti menjadi pengasih, di situlah akar tata letak inti sari kearifan lokal Bali. .(MAW)

Tinggalkan Balasan