DENPASAR, TIVIBALI.com – 11 Agustus 2026, Gedung Aula Pascasarjana Lt. III, Unud Jl. P.B. Sudirman, Denpasar, Bali menjadi saksi lahirnya Doktor Pariwisata yang di kenal sebagai sosok yang rendahati dan mengispirasi; Dr. Trisno Nugroho, S.E., M.B.A
Tiga puluh tahun lalu, di bangku SMA Cilacap, seorang anak menuliskan nama di buku tulisnya: Profesor Doktor Trisno Nugroho. Ayahnya wafat ketika usianya menginjak 13 tahun. Waktu baru kuliah orang-orang sempat bilang: “Ris, kuliah nanti kamu nganggur.” Dirinya bercerita saat Kuliah dulu kiriman dari rumah kadang ada, kadang tidak, namun itu tak menyusutkan semangat Trisno muda.
Setelah sekian tahun, tulisan di buku tulis itu kini menjadi nyata. Dr. Trisno Nugroho dikukuhkan sebagai Doktor Program Studi Doktor Pariwisata Universitas Udayana, dengan disertasi “Model Pengembangan Pariwisata Regeneratif di Desa Wisata Penglipuran, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali”. Dari mahasiswa yang hampir tidak lulus, kemudian menjadi pegawai Bank Indonesia, Konsultan Bappenas, penerima beasiswa MBA di Inggris, dan kini pembawa gagasan untuk menyelamatkan desa wisata Bali dan memiliki semangat yang luhur yaitu bagaimana pariwisata memberi penghidupan kepada masyarakat.
“Kalau yang kita suguhkan Bali yang rusak, untuk apa mereka datang?”
Pertanyaan itulah yang menghantui Dr. Trisno. Bali memiliki 246 desa wisata ber-SK Bupati dan Walikota. Tapi coba sebut lima nama. Yang keluar pasti: Penglipuran. Yang kedua? Kebanyakan diam.
Data menunjukkan tekanannya nyata, tahun 2025 kunjungan ke Penglipuran mencapai 125.826 orang, tertinggi sepanjang sejarah. Puncaknya pada 2005, desa itu didatangi 10.000 orang dalam sehari. Akibatnya: sampah menumpuk, rumput terinjak, hutan bambu tertekan. Bahkan muncul pemberitaan “Over Tourism di Penglipuran”.
“Saya tidak mencari model bagaimana menghabiskan desa untuk pariwisata. Saya mencari model bagaimana pariwisata menghidupkan kembali desa,” ujarnya. Ia menyebutnya Pariwisata Regeneratif.
Penglipuran dipilih karena tiga hal: desa adat yang hidup dengan awig-awig, ruang tradisional yang tertata, dan hutan bambu sebagai identitas. Namun Dr. Trisno jujur membedah akar dan tantangannya. Karena itu ia berpijak pada tiga teori: Fullerton 2018 yang mendorong fase restoratif, Butler yang mendiagnosa Penglipuran berada di fase matang dan jenuh, dan Doxey yang memperingatkan risiko masyarakat masuk ke fase antagonisme.
Kesimpulannya: Stagnasi ditambah Antagonisme sama dengan Kematian Destinasi. Maka model regeneratif wajib hadir. “Ibarat vaksin, agar Penglipuran tidak mati karena terlalu dicintai,” katanya.
REGENESIS dan 78 Rumah Pemegang Saham
Hasil uji PLS-SEM menemukan dua kunci. Pertama, pemahaman masyarakat berpengaruh lebih kuat daripada pengetahuan dalam mendorong keterlibatan. Kedua, keunikan tata kelola 78 rumah sebagai pemegang saham yang rapat setiap bulan untuk menentukan kuota, retribusi, dan arah desa.
“Keberhasilan regenerasi ada di dua hal: Pemahaman Masyarakat ditambah Tata Kelola 78 Rumah,” tegasnya.
Dari situ lahir Model REGENESIS 3R: Regenerasi Sosial Budaya, Ekonomi, dan Ekologi. Model ini ditopang enam prinsip: Daya Dukung, Quality Tourism, Net Positif, Sesuai Budaya, Integrasi, dan Keterlibatan Masyarakat.
Promotornya, Prof. Dr. Drs. I Nyoman Sunarta, M.Si., menegaskan pentingnya NATASA: Nature as a Stakeholder and Actor. “Alam tidak boleh lagi jadi latar foto. Hutan bambu Penglipuran, tanah, air, dan udara adalah bagian dari kehidupan desa. Jika alam melemah, maka pariwisata ikut melemah.”
Prof. Sunarta juga membedakan tiga tingkatan: Pariwisata yang baik membuat orang datang. Pariwisata berkelanjutan membuat destinasi bertahan. Pariwisata regeneratif membuat kehidupan menjadi lebih baik.
Tiga Rekomendasi untuk Menyelamatkan 246 Desa Wisata
Dr. Trisno Nugroho menekankan model ini hanya akan berjalan jika ada tiga pilar yang bergerak bersamaan: desa diperbaiki, masyarakat diberdayakan, wisatawan diedukasi melalui konsep Travel Representative. “Kalau wisatawan tidak memberi manfaat, untuk apa dia datang?”
Ia mengajukan tiga rekomendasi kebijakan. Pertama, untuk masyarakat, perlu ada penguatan edukasi regeneratif secara berkelanjutan, terutama bagi anak muda Penglipuran agar memahami bahwa desa ini adalah warisan dan tanggung jawab bersama. Kedua, untuk pemerintah, pariwisata regeneratif harus dijadikan kerangka utama dalam kebijakan pengembangan desa wisata fase lanjut. Sudah saatnya berhenti mengejar kuantitas dan mulai fokus pada kualitas serta dampak. Ketiga, untuk pengelola destinasi, wajib dilakukan pemantauan berkala terhadap daya dukung dan persepsi masyarakat. Pertanyaan kuncinya harus terus diulang: “Apakah ramai itu bagus, atau ramai itu malah tidak bagus?”
“Usia saya sudah tidak muda,” kata Dr. Trisno menutup sambutannya. “Tapi semoga ini bukti tidak ada kata terlambat untuk belajar dan memberi manfaat.” Ia mendedikasikan gelar ini untuk almarhum Ayahnya Bapak Subagyo dan untuk desa wisata agar terus hidup, memberi penghidupan dan berkeadilan.
Tahun 2027 adalah 100 tahun pariwisata Bali. “Bali dibangun bukan dalam sekejap,” katanya. “Maka warisannya pun harus mulia untuk diwariskan.”
Dari Nusa Kambangan ke Udayana. Dari impian yang ditulis atas kertas, ke konsep REGENESIS, mungkin itu hakekat regenerasi sesungguhnya: bangkit, pulih, lalu memberi penghidupan kepada orang lain. (MAW)

Tinggalkan Balasan