TABANAN, TIVIBALI.com- Ladang kakao yang sejuk, indah dengan view menawan di Kabupaten Tabanan menjadi saksi komitmen baru pengembangan ekonomi daerah. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) resmi memperkuat hilirisasi kakao dari hulu hingga hilir.

Komitmen itu diwujudkan melalui Penandatanganan Kerja Sama (PKS) Pengembangan Ekonomi Daerah di Kebun Kakao Tabanan, Kamis (17/9/2026). PKS ini mempertemukan PT. CAU Cokelat Internasional yang beralamat di Jl. Raya Marga – Apuan Tabanan, dengan PT BPD Bali, PT Jamkrida Bali Mandara, BPJS Ketenagakerjaan, dan tiga kelompok tani binaan.

Ket Foto: Penandatanganan Kerja Sama (PKS) Pengembangan Ekonomi Daerah di Kebun Cau Cokelat – Tabanan.

Penandatanganan dilakukan oleh CEO PT. CAU Cokelat Internasional dengan Kepala BPD Bali Cabang Tabanan dan perwakilan Kelompok Tani Bumi Lestari, Werdi Bhuana, dan Kakao Forestry. Disaksikan langsung oleh Kepala OJK Provinsi Bali Bapak Parjiman dan Staf Ahli Bidang Pembangunan Ekonomi dan Keuangan Kabupaten Tabanan yang mewakili Bupati .

Dari 3M Menjadi Penggerak Ekonomi Daerah

Kepala OJK Bali Bapak Parjiman menegaskan, OJK kini tak hanya mengemban tugas mengatur, mengawasi, dan melindungi (3M). Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK), OJK mendapat mandat tambahan untuk ikut mendorong pengembangan ekonomi daerah bersama stakeholder.

“Untuk merealisasikan hal tersebut, kami membentuk Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) di seluruh kabupaten dan provinsi di Indonesia,” ujar Parjiman membuka sambutannya di tengah suasana kebun yang asri.

Ia mengungkapkan, dari evaluasi sejumlah komoditas unggulan di Bali, kakao Tabanan dinilai paling prospektif dari segala sudut.

“Dari sudut apapun cukup bagus untuk dikembangkan, termasuk untuk pasar ekspor,” tegasnya.

Khusus Tabanan, OJK fokus menciptakan ekosistem hilirisasi kakao dengan dukungan penuh industri jasa keuangan, off-taker, dinas pertanian, dan kelompok tani. Pola yang sukses di Jembrana ini akan direplikasi di Tabanan dan nantinya akan ada pilot project pengembangan kakao di Kabupaten Lombok Utara, NTB.

Ekosistem Lengkap, Petani Tak Khawatir Pasar

Dalam program Pengembangan Ekonomi Daerah, OJK merancang ekosistem yang saling menguatkan dan berkelanjutan.

PT. CAU Cokelat Internasional sebagai off-taker menjamin kepastian pasar. Berapa pun hasil panen petani akan dibeli. Dari sisi pembiayaan, petani yang butuh modal untuk peremajaan maupun pemeliharaan kebun didukung oleh BPD Bali. Kemudian Jamkrida Bali Mandara hadir sebagai penjamin kredit, dan BPJS Ketenagakerjaan memberikan perlindungan sosial bagi petani.

“Jadi inilah ekosistem yang bagus untuk dikembangkan. Kami tidak bisa sendirian, sehingga kami membentuk ekosistem baik dari sektor jasa keuangan, Jamkrida, BPD, termasuk pemerintah daerah,” ucap Parjiman.

Ia memaparkan bukti nyata, tahun lalu melalui program serupa di Jembrana, BPD Bali telah menyalurkan pembiayaan Rp3,6 miliar kepada 6 kelompok tani dengan kualitas kredit terjaga, NPL 0 persen. Untuk Tabanan, estimasi potensi penyaluran setelah dklakukan PKS dapat mencapai Rp6 miliar.

Parjiman juga menyebut CAU Cokelat memiliki kapasitas besar dan telah mengantongi sertifikasi nasional dan internasional, bahkan telah ekspor ke Amerika dan Eropa. Ke depan dibutuhkan lebih banyak bibit kakao yang akan ditanam petani dengan pembinaan Pemerintah Daerah Tabanan.

“Jadi skemanya seperti itu, produk kakao kita pilih, kita kembangkan membentuk suatu ekosistem sehingga semua bisa berjalan baik, saling mendukung dan mendapat kepastian,” tutupnya.

The Taste of Paradise, Dari Desa Tembus Eropa

Sementara itu CEO PT. CAU Cokelat Internasional, Kadek Surya Prasetya Wiguna, menegaskan sebagai off-taker dirinya tidak bisa berjalan sendiri. Dukungan OJK, BPD Bali, Pemda, Jamkrida, dan BPJS Ketenagakerjaan sangat vital untuk memperkuat ekosistem petani.

Saat ini, CAU Cokelat menjadi salah satu penampung terbesar hasil kakao Tabanan dan Jembrana.

Pabrik CAU Cokelat Internasional memiliki kapasitas pengelolaan 1 sampai 2 ton per hari atau sekitar 350 ton per tahun. Artinya, jika 1 hektare menghasilkan 1 ton, dibutuhkan 350 hektare lahan. Untuk memenuhi itu, dibutuhkan kolaborasi 300 hingga 500 petani.

“Jadi pabrik itu harus relate dengan kebunnya,” ujar Kadek Surya.

Persoalan klasik petani adalah market. Untuk itu, CAU Cokelat memiliki tim yang kuat untuk penetrasi pasar, baik lokal, domestik, maupun internasional.

“Kita sangat meyakini produk kita pasti berjalan, tinggal bagaimana konsep branding, packaging, dan mengkomunikasikan keunikan cokelat Tabanan dengan di Jawa dan Papua,” katanya.

Keunikan itulah yang diangkat menjadi branding kuat Kabupaten Tabanan dengan konsep premium The Taste of Paradise.

“Kami memiliki konsep The Taste of Paradise, jadi bagaimana cokelat seperti berasa di surga. Seperti saat ini kita berada di kebun cokelat, ada air mengalir, suasana yang nyaman itu, kita transformasikan ke dalam produk-produk kita,” ungkapnya.

Menurut Kadek Surya, keinginan petani sederhana: kebun penuh buah, sehat, produktivitas besar, dan harganya baik.

“Bayangkan jika seorang petani dengan lahan 1 hektare menghasilkan 2 ton, maka dia bisa memiliki uang sebesar Rp250 juta per tahun. Dan itu tidak harus di tengah kota, bisa di desa, bahkan jalan setapak pun bisa,” jelasnya.

Kabar baiknya, cokelat tidak tumbuh di Eropa, sementara kebutuhan di sana ribuan ton per tahun, jadi peluang petani tropis terbuka lebar.

“Sehingga petani kakao tidak perlu khawatir, yang terpenting adalah bagaimana kita bisa berusaha dan sertifikasi kita termasuk sertifikasi yang dibutuhkan oleh market. Kami terus berusaha, tanggung jawab kami besar, namun kami yakin karena kami sangat nasionalis. Kami ingin ekonomi Indonesia berkembang, ekonomi Bali berkembang,” pungkasnya. (MAW)