TABANAN, TIVIBALI.com – Ironi kakao Indonesia masih terjadi hingga hari ini. Sebagai salah satu produsen biji kakao terbesar di dunia, Indonesia justru masih bergantung pada cokelat olahan impor untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik. Di celah ironi itu, sebuah destinasi di Tabanan mencoba memotong rantai ketergantungan tersebut dari hulu.
Namanya Desa Coklat Bali. Berlokasi di Jalan Marga Apuan, Banjar Cau, Desa Tua, Kecamatan Marga, Tabanan, destinasi ini tidak sekadar menjual cokelat, melainkan menawarkan pengalaman utuh tentang kakao dari kebun hingga ke tangan penggemarnya.
Desa Coklat Bali lahir pada masa pandemi Covid-19. Awalnya ia merupakan bagian dari Cau Chocolates. Seiring permintaan wisata edukasi kini meningkat, ia berkembang menjadi entitas mandiri di bawah bendera PT Desa Coklat Indonesia. Tiga pilar disatukan dalam satu kawasan: pertanian, pariwisata, dan kuliner.
Belajar Kakao dari Akarnya
Manager Operational Desa Coklat Bali, I Made Rudita, menegaskan posisi desanya bukan sebagai tempat wisata konvensional.
“Kami ingin Desa Coklat Bali menjadi lebih dari sekadar tempat wisata. Ini adalah ruang untuk belajar, merasakan, dan mengalami langsung kisah di balik sebiji kakao,” kata Rudita.
Untuk mewujudkan itu, Desa Coklat Bali merancang enam program agrowisata interaktif.
Dua program inti fokus pada cokelat itu sendiri: Chocolate Education atau Chocolate Tour, di mana pengunjung diajak menyusuri kebun kakao dan memahami proses fermentasi hingga menjadi cokelat batang; dan Chocolate Molding, mencetak cokelat dengan tangan sendiri.
Dua program berikutnya masuk ke ranah racikan. Chocolate Time mengajak pengunjung meracik minuman cokelat hangat dengan enam varian rasa: jahe, mint, karamel, susu, kopi, dan teh. Sedangkan Chocolate Experience menawarkan pengalaman lebih otentik, membuat minuman cokelat tradisional dari cacao nibs secara manual.
Untuk memperluas konteks, Desa Coklat juga menghadirkan Rice Planting, mengajak wisatawan turun ke sawah menanam padi layaknya petani Bali, dan Be Balinese, program pengenalan adat, tradisi, dan kesenian Bali secara langsung.
Farm to Table di Tengah Kebun
Pengalaman itu bermuara di restorannya. Berada di tengah kebun kakao, restoran Desa Coklat Bali mengusung prinsip eco-friendly dan farm to table. Bahan baku cokelat diambil langsung dari kebun organik yang dikelola bersama petani lokal di Desa Cau.
Menu yang ditawarkan tidak biasa. Untuk hidangan gurih ada Chicken Choco Mole, Tropical Cocoa Pizza, dan Carbonara White Choco Creamy. Untuk minuman, ada Choco Mint Martini dan Hazelnut Iced Chocolate. Sementara pencuci mulut andalannya adalah DCB Romantic dan Death Lava Ice Cream.
Menurut Founder Cau Chocolates, I Wayan Alit Artha Wiguna, model bisnis ini sengaja dibangun untuk menjawab persoalan hulu-hilir kakao Indonesia.
“Yang membedakan Desa Coklat Bali adalah kami tidak hanya menjual produk cokelat, tapi menghadirkan pengalaman utuh dari kebun sampai ke tangan penggemarnya. Pengunjung bisa melihat sendiri asal biji kakao yang mereka nikmati, sekaligus mendukung geliat petani kakao di Tabanan,” ujar Alit.
“Ini juga jawaban kami atas pertanyaan sederhana: kalau Indonesia termasuk sebagai penghasil kakao besar, mengapa kita masih bergantung pada cokelat olahan luar negeri?” kata dia.
Di tangan Desa Coklat Bali, kakao Tabanan tidak lagi sekadar komoditas mentah yang diekspor. Ia diolah, diceritakan, dan dikembalikan martabatnya di tanah ibu pertiwi.(ad/maw)

Tinggalkan Balasan