DENPASAR, TIVIBALI.com – Walikota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, menghadiri pelaksanaan Upacara Metatah atau Mepandes Massal Desa Adat Kesiman yang dipusatkan di Pantai Padang Galak, Denpasar Timur, Senin (28/9/2026).
Upacara potong gigi massal tersebut diikuti sebanyak 345 peserta dari 32 banjar adat se-Desa Adat Kesiman. Dalam kesempatan tersebut, Walikota Jaya Negara turut ngayah nyangging kepada beberapa peserta metatah dan menyerahkan punia sebagai bentuk dukungan terhadap pelaksanaan karya adat dan keagamaan.
Didampingi Kabag Kesra Setda Kota Denpasar, I Putu Agus Jayadi, Walikota Jaya Negara memberikan apresiasi kepada Jro Bendesa Adat Kesiman beserta seluruh panitia yang telah menyelenggarakan rangkaian upacara secara massal.
Menurut Jaya Negara, pelaksanaan karya adat secara bersama-sama tidak hanya penting untuk menjaga kelestarian tradisi dan nilai-nilai keagamaan, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Rangkaian upacara keagamaan tersebut berlangsung khidmat dan runtut, dimulai dari prosesi Ngaben, Mepetik, Ngangkit ke Pasih, hingga pelaksanaan upacara Metatah atau potong gigi massal. Langkah dan kerja keras Jro Bendesa beserta pihak Desa Adat Kesiman ini sejalan dan turut mendukung program pemerintah daerah dalam membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Jaya Negara.
Ia menilai pelaksanaan upacara secara massal dapat membantu menghemat waktu sekaligus meringankan beban biaya masyarakat, khususnya para orang tua yang anaknya mengikuti upacara potong gigi.
Jaya Negara berharap pelaksanaan karya massal tersebut dapat terus memperkuat semangat kebersamaan dan gotong royong krama. Selain sebagai kewajiban adat dan agama, kegiatan ini menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi dan menjaga keharmonisan Desa Adat Kesiman.
Sementara itu, Jro Bendesa Adat Kesiman, I Ketut Wisna, mengatakan rangkaian karya massal ini terlaksana berkat kolaborasi berbagai pihak, termasuk Puri Pemayun Kesiman. Rangkaian kegiatan diawali dengan prosesi Negteg Beras pada 9 September, dilanjutkan Ngingsah pada 16 September, dan Melaspas Peyadnyan pada 18 September. Sebelum Metatah Massal, juga digelar ritual Mesasap Segara yang diikuti 526 peserta.
“Pelaksanaan secara massal ini tentu memberikan kemudahan bagi masyarakat, terutama dari sisi efisiensi waktu dan biaya,” ujar Wisna.
Rangkaian karya massal Desa Adat Kesiman masih akan berlanjut hingga puncak acara pada 1 Oktober mendatang melalui prosesi Pengajum dan Mepetik yang akan dipuput lima orang sulinggih. Seluruh rangkaian karya akan ditutup dengan upacara Nyegara Gunung pada 4 Oktober mendatang. (ad/maw)

Tinggalkan Balasan