DENPASAR, TIVIBALI.com – Gubernur Bali Wayan Koster meresmikan 11 unit bus listrik hibah Pemerintah Korea di Denpasar, Kamis (22/10/2026). Peresmian tersebut menjadi penanda percepatan transisi transportasi publik berbasis baterai di Bali.

Peluncuran dilakukan bersama Wakil Menteri PPN/Bappenas Febrian Alphyanto Ruddyard, Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia Yoon Soongu, perwakilan Hyundai Motor, dan Country Representative GGGI Indonesia Mr. Rowan Fraser.

Peluncuran ini bagian dari Bali E-Mobility Project. Proyek kolaborasi Pemerintah Korea melalui KOICA, GGGI sebagai pelaksana, dan Pemprov Bali. Ini juga tindak lanjut dari naiknya hubungan Indonesia-Korea menjadi Kemitraan Strategis Komprehensif Khusus pada April lalu.

Koster mengatakan, hibah ini sejalan dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali. Dari sisi regulasi, Bali sudah menyiapkan dari hulu ke hilir.

Di hulu, ada Pergub Nomor 45 Tahun 2019 tentang Bali Energi Bersih yang melarang pembangunan pembangkit batu bara. Saat ini Bali tengah menyiapkan PLTS 1.000 megawatt di Jembrana dan Buleleng, ditargetkan mulai konstruksi pada 2027.

Di hilir, ada Pergub Nomor 48 Tahun 2019 tentang Kendaraan Listrik Berbasis Baterai. Kebijakan itu, kata Koster, keharusan karena lebih dari 90 persen polusi udara di Bali berasal dari pembangkit dan transportasi fosil.

“Denpasar-Singaraja pulang-pergi biasanya habis BBM Rp 500 ribu, dengan mobil listrik hanya Rp 140 ribu. Tidak ada suara, tidak ada polusi,” ujarnya.

Sementara itu, Duta Besar Republik Korea untuk Indonesia Yoon Soongu mengatakan peluncuran bus listrik ini adalah wujud nyata dari kemitraan strategis kedua negara. Proyek ini, kata dia, menyatukan bantuan pembangunan Pemerintah Korea melalui KOICA, keahlian GGGI, dan kemampuan teknologi perusahaan kedua negara.

“Kami berharap bus ini membantu Bali mengurangi emisi gas rumah kaca, menawarkan perjalanan yang lebih bersih dan nyaman bagi warga dan wisatawan, serta menjadi model berkelanjutan yang dapat direplikasi di wilayah lain di Indonesia,” kata Yoon Soongu.

Dari sisi armada, Hyundai Motor menjelaskan 11 unit yang dihibahkan merupakan tipe Hyundai County Electric. Jarak tempuhnya mencapai 250 kilometer dalam sekali pengisian daya penuh. Bus berlantai rendah untuk akses disabilitas, dilengkapi pengereman regeneratif dan penyejuk udara ramah lingkungan. Selain armada, Hyundai menyiapkan enam unit fast charging serta pelatihan perawatan bagi teknisi lokal.

GGGI mencatat, selama 10 tahun operasi armada ini diproyeksikan memangkas emisi lebih dari 2.200 ton CO2e. Tanpa emisi knalpot. Layanan ini juga akan menerapkan tarif khusus bagi pelajar dan penyandang disabilitas agar transportasi bersih dapat diakses semua kalangan. (MAW)