DENPASAR, TIVIBALI.com– Ketua Umum Partai Gelora Indonesia yang juga Wakil Menteri Luar Negeri, H. Muhammad Anis Mata menyebut Partai Gelora lahir sebagai jawaban atas tantangan kebangsaan di tengah turbulensi global. Bali disebut sebagai titik awal lahirnya gagasan partai tersebut.

Pernyataan itu disampaikan Anis Mata dalam Dialog Kebangsaan Partai Gelora Indonesia Provinsi Bali di Harris Hotel Denpasar, Minggu (13/9/2026), malam.

“Bali ini adalah dapurnya Partai Gelora. Di tempat inilah secara diam-diam sejak tahun 2013 kita mengembangkan,” kata Anis.

Ia menyebut sejak 2013, Bali menjadi tempat “iktikaf politik” untuk merumuskan ide-ide baru. “Saya tidak tahu Bali ini ada auranya, begitu hadir di sini pikiran tiba-tiba terbuka,” ujarnya.

Anis mengungkap Gelora tidak lahir secara instan, Partai ini merupakan hasil dari pelatihan, pengkajian, dan istikharah bertahun-tahun.

“Banyak pelatihan yang kita lakukan di tempat ini dan akhirnya membuahkan kesadaran baru. Karena di tempat yang lama tidak ada ruang untuk mewujudkan pikiran itu, maka kita berijtihad,” jelasnya.

“Setelah istikharah panjang bertahun-tahun, akhirnya kita memutuskan untuk mendirikan partai,” tegasnya.

Dalam pidatonya, Anis memperkenalkan doktrin kepemimpinan Gelora. Doktrin itu mengajak melakukan hal yang benar.

“Tugas seorang pemimpin adalah melakukan hal yang benar. Hasilnya itu masalah lain. Do it, try, think. Itu tugas utama,” katanya.

Ia juga menyoroti pentingnya kader memiliki wawasan jauh ke depan. Di masa-masa sulit, ia mengaku rela mengeluarkan dana besar untuk “belanja pengetahuan dan informasi”.

Anis menekankan Gelora membutuhkan generasi yang siap memikul beban jangka panjang, bukan sekadar mengejar kekuasaan sesaat.

“kita membutuhkan generasi dan orang-orang yang siap memikul beban dalam waktu yang lama,” ujarnya.

Ia juga menyebut eksistensi Gelora memiliki alasan politik yang kuat. Partai ini, kata dia, layak menjadi kekuatan politik utama karena lahir dari perenungan panjang sejak 2009.

“Alasan-alasan ini semuanya membuat Gelora layak untuk menjadi kekuatan politik utama di Indonesia,” tegasnya.

Pesan politik paling kuat disampaikan Anis terkait posisi Gelora menghadapi krisis global, Dirinya menganalogikan Gelora seperti perahu Nabi Nuh.

“Kita semua melihat gelombang krisis global yang besar sedang akan datang, kita lahir di tengah gelombang. Waktu badainya datang, kita semuanya naik di perahu ini,” ujarnya.

Bagi Anis Mata, sebab kelahiran Gelora adalah untuk “menafsirkan Indonesia” melewati badai global. Dari situlah lahir gagasan “Arah Baru Indonesia”.

“Negara merupakan instrumen dalam narasi peradaban besar. Tipikal kepemimpinan yang ingin dilahirkan adalah pandangan jauh ke depan dan keteguhan,” katanya.

Ia menutup pidato dengan target politik tegas: Gelora harus menang Pemilu 2029.

“Relevansi kehadiran kita dalam konteks bernegara dan dunia, itulah yang membuat mengapa partai Gelora ini harus menang dalam Pemilu 2029,” pungkas Anis.

Ketua DPW Partai Gelora Indonesia Provinsi Bali H. Mudjiono menyatakan partainya fokus pada kemanfaatan, bukan sekadar mengejar kursi.

“Apa yang bisa kita berikan manfaat kepada rakyat. Soal kursi itu hanya bonus. Kalau di Bali hanya dapat satu, ya itu bonus kita,” ujarnya. Saat ini Gelora hanya memiliki 1 kursi di DPRD Kota Denpasar dan belum memiliki kursi di DPRD Provinsi Bali.

Meski begitu, Mudjiono mengklaim pengaruh Gelora tetap terasa. Dialog Kebangsaan yang menghadirkan Wamenlu/Ketum Anis Mata juga mendapat respons besar. Dari kuota 200 kursi habis dalam sehari dan jumlahnya bertambah menjadi 250 peserta.

Untuk Pemilu 2029, Gelora Bali memasang target. “Dulu kita pernah dapat 6 kursi di Karangasem, Denpasar, Jembrana. Kita akan kembalikan kejayaan itu,” pungkas Mudjiono. (MAW)