BULELENG, TIVIBALI.com – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali menggelar Forum Diskusi Strategis BALINOMICS di Kantor Bupati Buleleng, Kamis (5/10/2026). Forum keempat tahun 2026 ini merekomendasikan langkah taktis pemerataan ekonomi Bali Utara-Selatan lewat konektivitas, pariwisata berkelanjutan, dan hilirisasi komoditas unggulan.

Forum dibuka oleh Bupati Buleleng yang diwakili Asisten Perekonomian dan Pembangunan (Asisten II) Sekretariat Daerah Kabupaten Buleleng, Putu Ayu Reika Nurhaeni. Forum Balinomics kali ini mempertemukan perwakilan instansi vertikal seperti Badan Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan Bali, OPD Provinsi Bali dan Kabupaten Buleleng, perwakilan akademisi dari Universitas Pendidikan Ganesha, media, dan perwakilan asosiasi pengusaha.

Dalam pembukaannya, Putu Ayu menyampaikan tantangan ekonomi Bali saat ini yakni masih terkonsentrasinya aktivitas ekonomi di wilayah Bali Selatan.

“Ke depan, pengembangan Bali Utara sangat esensial yang sejatinya merupakan bagian dari strategi penguatan ekonomi Bali secara keseluruhan, agar manfaat pembangunan dapat dirasakan di seluruh wilayah Bali,” tutur Putu Ayu.

Putu Ayu menekankan tiga strategi utama untuk mendorong pemerataan ekonomi Bali Utara dan Bali Selatan, yakni (1) penguatan konektivitas Bali Utara–Selatan, (2) pengembangan pariwisata Bali Utara yang berkualitas dan berkelanjutan, (3) peningkatan nilai tambah sektor kelautan, perikanan, dan pertanian melalui hilirisasi.

Lebih lanjut, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Achris Sarwani dalam sambutannya menyampaikan Forum Balinomics kali ini merupakan penyelenggaraan keempat di tahun ini yang berfokus pada perumusan strategi taktis untuk mendukung pemerataan ekonomi Bali Utara dan Selatan.

Achris menyebutkan kinerja perekonomian Bali tahun 2026 tetap kuat dengan pertumbuhan yang diperkirakan berada pada batas atas kisaran 5,4–5,9 persen (yoy). Namun demikian, potensi ekonomi Bali belum sepenuhnya optimal karena aktivitas ekonomi masih sangat terkonsentrasi di Bali Selatan.

Hal ini tercermin dari kontribusi PDRB wilayah Bali Selatan (Daerah Sarbagita) mencapai 58 persen terhadap PDRB Bali. Realisasi penanaman modal juga terkonsentrasi di Daerah Sarbagita mencapai Rp30,49 triliun (pangsa 81,64 persen) sepanjang 2026.

Pada Balinomics kali ini, Achris menegaskan pentingnya penciptaan nilai tambah komoditas unggulan daerah sebagai langkah pemerataan ekonomi, termasuk mendorong penciptaan lapangan kerja yang lebih luas. Untuk itu, pada Balinomics kali ini terdapat sharing dari pengusaha yang telah sukses meningkatkan nilai tambah komoditas lokal unggulan.

Sharing session disampaikan Founder & CEO PT Haldin Pacific Semesta, PT Talasi Tru Origin, Alisjahbana Haliman. Ali menyampaikan Bali memiliki berbagai komoditas unggulan daerah yang sangat dibutuhkan pasar domestik dan internasional, mulai dari kopi, rumput laut, anggur, dan sebagainya. Ketersediaan produk lokal menjadi modal untuk meningkatkan nilai ekonomi melalui strategi substitusi impor.

Sebagai contoh, Ali menyebutkan maple syrup yang selama ini banyak diimpor, dapat disubstitusi dengan aren syrup. Namun Ali menegaskan yang masih menjadi pekerjaan rumah untuk meningkatkan nilai tambah dari komoditas lokal adalah penguatan value chain, mulai dari jaminan mutu, keberlanjutan pasokan, dan perluasan pasar.

Sejalan dengan Ali, Kepala Badan Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan Bali Dedy Arief Hendriyanto memaparkan komoditas perikanan Bali telah mampu bersaing di pasar global seperti ikan tuna, udang, dan sebagainya yang selalu dijaga mutunya, namun perlu juga dilakukan perluasan pasar ekspor.

Turut hadir Kepala Bappeda Kabupaten Buleleng yang menyampaikan harapan ke depan dapat dibangun satu ekosistem pertumbuhan Bali Utara sehingga lebih banyak nilai ekonomi yang tinggal di Bali Utara.

Penguatan konektivitas fisik, digital, pariwisata, serta penguatan value chain komoditas lokal menjadi langkah taktis untuk pemerataan ekonomi Bali Utara dan Bali Selatan. Ke depan, melalui sinergi dan kolaborasi yang kuat dengan mitra kerja, Balinomics dapat menjadi katalis penguatan sinergi antar pemangku kepentingan dalam mewujudkan Bali yang tumbuh lebih merata, produktif, dan berkelanjutan. (ad/maw)