DENPASAR, TIVIBALI.com – Lahan yang sempat menganggur kini kembali berproduksi. Dinas Pertanian Kota Denpasar membuktikan lahan bera bisa menjadi solusi menjaga pasokan pangan sekaligus menambah pendapatan petani. Buktinya terlihat Kamis (2/7/2026) saat panen jagung manis varietas Golden Boy di Subak Intaran Barat, Desa Sanur Kauh, Denpasar Selatan.

Menjawab tantangan, program pemanfaatan lahan bera digulirkan untuk mengoptimalkan lahan pertanian yang sementara tidak ditanami. Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura TPH Dinas Pertanian Kota Denpasar I GAN Anggreni Suwari, SP.,M.Si. menjelaskan strategi ini menaikkan nilai ekonomi lahan dan memperkuat ketahanan pangan daerah.

Menerapkan sistem bertahap, pengelolaan dilakukan pada areal seluas 1 hektare di Subak Intaran Barat. Pola tanam berjenjang dipilih agar waktu panen tidak bertumpuk. “Pola tanam ini diterapkan agar masa panen berlangsung berkesinambungan, sehingga pasokan jagung manis ke pasar tetap stabil dan tidak terjadi penumpukan hasil panen dalam satu waktu,” kata Anggreni.

Menuai hasil, panen tahap pertama di lahan 20 are menghasilkan sekitar 3,21 ton jagung manis. Angka itu setara produktivitas 16,02 ton per hektare. Capaian tersebut menunjukkan lahan bera menyimpan potensi besar jika ditangani dengan teknologi budidaya yang tepat serta dukungan penyuluh dan pemerintah.

Menggandeng banyak pihak, kegiatan panen dihadiri perwakilan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, jajaran Dinas Pertanian Kota Denpasar, penyuluh pertanian lapangan PPL, Pekaseh Subak Intaran Barat, dan petani pengelola lahan. Kolaborasi itu menjadi kunci keberhasilan program.

Mendorong perluasan, Dinas Pertanian Kota Denpasar berharap model ini direplikasi di lahan bera lainnya. Tujuannya jelas: meningkatkan produktivitas pertanian, menjaga keberlanjutan usaha tani, dan memperkuat ketahanan pangan Kota Denpasar.

Menutup kegiatan, Anggreni menekankan pentingnya sinergi semua pemangku kepentingan. “Kolaborasi yang terjalin antara pemerintah, petani, dan seluruh pemangku kepentingan diharapkan terus melahirkan inovasi pertanian yang produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan,” ujarnya. (mtb)