BANGLI, TIVIBALI.com – Di balik pegunungan Bangli, ada sebuah desa yang menjaga janji leluhurnya selama lebih dari 300 tahun. Desa itu bernama Desa Penglipuran.

Hari ini Desa Adat Penglipuran, Kabupaten Bangli menggelar Penglipuran Festival ke-13 Tahun 2026. Mengusung tema “Harmoni Bumi Penglipuran”, festival ini menegaskan komitmen desa dalam mewujudkan pariwisata yang inklusif, berkelanjutan, dan regeneratif.

Peed Aya, parade budaya yang menjadi menu utama opening ceremony di meriahkan dengan pementasan tari dan lomba gebogan yang diikuti oleh perwakilan dari Banjar Adat, yaitu persekutuan masyarakat adat Bali yang hingga kini masih terjaga di Desa Wisata Penglipuran. Dewan juri dalam lomba ini juga berasal dari Banjar Adat, sebagai bentuk kolaborasi yang terus berjalan dari dulu hingga sekarang,(9/7/2026).

Kelian Adat Desa Penglipuran, Wayan Budiarta memaparkan, jauh sebelum dikenal sebagai desa wisata, masyarakat Penglipuran telah lama menjaga cara hidup leluhur berdasarkan filosofi Tri Hita Karana. Filosofi ini menekankan keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan.

“Komitmen menjaga kelestarian itu diwujudkan melalui penataan lingkungan sejak awal tahun 1990-an. Pada masa itu, dukungan program Kuliah Kerja Nyata mahasiswa Universitas Udayana turut menarik perhatian wisatawan”, ujarnya.

Titik penting terjadi pada tahun 1993, ketika Pemerintah Kabupaten Bangli melalui Surat Keputusan Bupati Bangli Nomor 115 menetapkan Penglipuran sebagai obyek wisata.

“Namun yang membedakan Penglipuran di awal adalah daya tarik wisatanya bukan dibangun dari nol demi kepentingan pariwisata, melainkan lahir dari komitmen pelestarian adat dan budaya yang telah dijalankan masyarakat jauh sebelumnya. Jadi di Penglipuran, pariwisata hadir mengikuti nilai-nilai luhur yang kami miliki, bukan meninggalkan nilai-nilai itu,” tegasnya.

Sejak 2012 terjadi perubahan besar dalam tata kelola. Warga Penglipuran tidak lagi menjadi objek wisata, tetapi mengambil peran sebagai subjek atau pelaku pariwisata. Konsep ini sejalan dengan visi desa: community based tourism, berbasis masyarakat, berbudaya, dan berwawasan lingkungan.

“Kami menyiapkan homestay, atraksi budaya, sampai menjadi pemandu wisata untuk memberikan informasi yang lebih akurat kepada wisatawan. Jadi kami bukan sekadar objek yang bisa dipandang saja,” lanjutnya.

Dari komitmen itu, nama Penglipuran terus mengharumkan Indonesia di kancah nasional dan internasional. Desa wisata ini pernah meraih penghargaan Kalpataru Lestari tahun 1995 karena berhasil menjaga pelestarian hutan bambu. Pada 2015, Penglipuran masuk dalam Indonesia Sustainable Tourism Awards dan daftar Sustainable Destination Top 100 versi Green Destinations Foundation. Tahun 2016, desa ini diviralkan sebagai salah satu desa terbersih di dunia oleh media internasional.

Puncaknya, pada 2023 Penglipuran dinobatkan sebagai salah satu Best Tourism Village 2023 oleh UN Tourism.

“Di balik seluruh penghargaan itu ada satu hal yang ingin kami curahkan,
Penglipuran bukanlah sekadar objek wisata tanpa kehidupan. Penglipuran adalah sebuah living museum. Museum yang hidup dibalik angkul-angkul dan rumah bambu yang rapi, di dalamnya hidup masyarakat dengan adat, ritual, dan budaya yang terus berjalan setiap hari,” ujarnya.

Keaslian inilah yang menjadi pembeda, “Keasliannya bukan karena rekayasa hanya untuk kepentingan pariwisata, tetapi merupakan kehidupan nyata yang kebetulan menjadi daya tarik dunia,” ucapnya.

Asisten Deputi Pengembangan Pariwisata Wilayah II Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Dwi Marhen Yono menyebut Festival Penglipuran ke-13 kembali masuk dalam daftar 100 Kharisma Event Nusantara versi Kementerian Pariwisata.

Dirinya menegaskan bahwa budaya menjadi alasan utama wisatawan mancanegara datang ke Indonesia. Berdasarkan data survei internasional, dari 15,6 juta wisatawan asing yang datang ke Indonesia, faktor “culture” menempati posisi pertama, mengalahkan alam.

“Karena itulah Bali bisa survive. Budaya Bali adalah atraksi utama yang wajib dilihat wisatawan,” ujarnya.

Kemenpar juga mengapresiasi Kabupaten Bangli sebagai satu-satunya kabupaten di Bali yang tidak memiliki pantai, namun mampu mengembangkan pariwisata berbasis budaya dan kearifan lokal. Potensi danau dan bukit di Bangli dinilai harus tetap dikemas dengan budaya sebagai atraksi utamanya.

“Kami titip 4 hal: jaga kebersihan, keamanan, kenyamanan, dan keramahan, karena wisatawan yang puas akan bercerita ke 10 temannya. Tapi jika tidak puas, mereka akan bercerita ke 100 temannya,” tandasnya.

Penglipuran Festival ke-13 terpilih dari 3.600 event yang diajukan ke Kementerian Pariwisata. Dua kriteria utama penilaian adalah kekuatan unsur budaya dan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Kemenpar berharap festival ini menjadi momentum untuk memperkuat pariwisata berbasis budaya dan menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia.

Hadir dalam acara tersebut Bupati Bangli, Forkopimda, Sekretaris Daerah, TNI-Polri, Dinas Pariwisata Provinsi dan Kabupaten Bangli, tokoh adat, tokoh budaya, tokoh seni, Ketua PHDI Bangli dan Komisaris Utama Perindo Agus Suhartono. (MAW)