LEGIAN, TIVIBALI.com – Setiap Jumat pagi, saat sebagian wisatawan menikmati kesegaran pariwiaata Bali dan hangatnya racikan kopi, ada jiwa jiwa yang bergerak tanpa pamrih turun ke Pantai Legian. Dengan modal sarung tangan, dan kantong sampah, mereka menyisir bibir pantai Legian yang menjadi salah satu ikon pariwisata Bali.

Aksi Beach Clean Up yang digagas Tim Sahabat Puspa Negara bersama Bumi Kita Nusantara adalah gerakan yang tak butuh tepuk tangan dan berharap penghargaan. Dan kabar baiknnya gerakan tersebut sudah memasuki tahun keenam.

“Kegiatan ini kami laksanakan setiap Jumat pagi, tujuannya untuk menciptakan konsistensi, karena kegiatan apa pun kalau tidak ada konsistensi tidak akan memiliki nilai tambah,” ujar Puspa Negara, yang juga menjabat sebagai Ketua Fraksi Partai Gerindra, Jumat (11/9/2026).

Bagi Puspa Negara l, menjaga kebersihan Pantai Legian bukan hanya soal estetika, namun lebih dari itu, yaitu menjaga wajah dan reputasi pariwisata Bali di mata dunia. “Karena kita tahu, pantai Legian selalu dipenuhi wisatawan mancanegara maupun domestik yang kebersihannya harus dipastikan tetap terjaga,” ucapnya.

Ia menilai, persoalan sampah di kawasan wisata belum bisa diselesaikan secara tuntas jika hanya mengandalkan pemerintah. Dibutuhkan keterlibatan semua elemen, “oleh karena itu kami mengajak seluruh pelaku usaha di wilayah Legian dan sekitarnya, stakeholder pariwisata, masyarakat umum, termasuk komunitas untuk bersama-sama menciptakan kebiasaan bersih pantai,” katanya.

Apresiasi khusus ia sampaikan kepada para pelaku usaha yang telah menyalurkan dana CSR untuk mendukung kegiatan ini. Tema yang diusung pada aksi kali ini adalah “Mari Jaga Kebersihan Bersama”. “Karena kebersihan destinasi merupakan syarat mutlak dari sebuah destinasi internasional,” ujar Puspa Negara.

Selain aksi fisik, Beach Clean Up aksi ini juga menjadi ruang edukasi. Para relawan tidak hanya memungut sampah, tetapi juga mensosialisasikan pentingnya memilah sampah dari sumbernya. “Tujuan kami selain menjaga pantai tetap bersih, juga mengedukasi masyarakat bagaimana memilah sampah yang baik dan benar. Dengan kehadiran PSEL, ke depan semua sampah harus tetap dipilah,” jelas Puspa.

Ia menekankan, budaya pilah sampah adalah fondasi untuk menjadi negara maju. “Tidak ada satu negara pun yang warganya tidak membuang sampah. Sehingga kalau kita mau jadi negara maju, maka sampah harus dipilah mulai dari rumah tangga, dari diri kita sendiri, sampai ke TPS 3R,” ujarnya.

Yang membuat gerakan ini bertahan lama adalah semangat para relawannya, selama 6 tahun, mereka hadir tanpa mengharapkan bayaran. “Kami beri apresiasi karena para peserta berkumpul tanpa harus diberi talent fee. Sudah terbentuk kebiasaan berkumpul dan bergerak untuk mengambil sampah di pantai,” kata Puspa.

Ia menutup dengan sebuah filosofi sederhana yang menjadi pegangan, “Ketika kita memperhatikan dan memelihara lingkungan, maka lingkungan akan memperhatikan dan memelihara kita.”

Dengan konsistensi itu, Beach Clean Up Pantai Legian membuktikan bahwa menjaga pariwisata berkelas dunia dimulai dari hal paling dasar, yaitu menjaga kebersihan. (MAW)