Oleh: Tantowi Yahya

Duta Besar RI untuk Selandia Baru (2017-2021); Ketua Umum IKA NHI Bandung; Presiden Komisaris PT BTID/KEK Kura Kura Bali

TIVI BALI.com – Bali selama ini telah menjadi salah satu nama paling kuat dalam peta pariwisata dunia. Bagi banyak wisatawan mancanegara, Bali bukan sekadar destinasi. Bali adalah pengalaman, identitas, gaya hidup, spiritualitas, budaya, hospitality, dan kerinduan untuk kembali.

Karena itu, sudah saatnya Bali tidak hanya dikenal sebagai destinasi alam dan budaya, tetapi juga berani menjadi panggung musik dunia.

Kita dapat belajar dari Singapura ketika Taylor Swift hadir melalui The Eras Tour. Singapura menjadi satu-satunya destinasi Asia Tenggara untuk konser tersebut. Dampaknya luar biasa. Fans dari berbagai negara Asia datang ke Singapura. Mereka membeli tiket pesawat, menginap di hotel, makan di restoran, berbelanja, menggunakan transportasi, membeli merchandise, dan memperpanjang masa tinggal. Satu konser berubah menjadi gerakan ekonomi lintas sektor.

Kita juga melihat Thailand yang bergerak agresif melalui Tomorrowland Thailand. Festival musik elektronik dunia itu menjadi magnet baru bagi wisatawan muda, komunitas global, promotor, sponsor, media, kreator konten, dan industri hospitality. Thailand memahami bahwa konser dan festival musik bukan sekadar hiburan, tetapi alat promosi destinasi dan mesin ekonomi baru.

Pertanyaannya: mengapa Bali tidak mengambil posisi yang sama, bahkan lebih kuat?

Bali memiliki modal yang sangat besar. Bali memiliki reputasi global. Bali memiliki banyak penerbangan internasional langsung. Bali memiliki jaringan hotel, resort, villa, restoran, beach club, kawasan event, komunitas kreatif, pekerja hospitality, dan pengalaman menyelenggarakan berbagai agenda internasional. Bali juga memiliki keunggulan emosional yang tidak dimiliki banyak destinasi lain: orang tidak hanya ingin datang ke Bali, mereka ingin mengalami Bali.

Dengan modal sebesar itu, Bali sesungguhnya sangat layak menjadi destinasi konser dunia.

Yang dibutuhkan sekarang adalah keberanian. Keberanian untuk mengundang artis internasional. Keberanian untuk membuat kalender konser dunia. Keberanian untuk menjadikan music tourism sebagai strategi pariwisata nasional. Keberanian untuk tidak hanya menjadi pasar penonton, tetapi menjadi tuan rumah panggung global. Musik hari ini bukan sekadar hiburan. Musik adalah industri. Musik adalah diplomasi budaya. Musik adalah magnet wisatawan. Musik adalah alasan orang melakukan perjalanan lintas negara. Dalam bahasa pariwisata, musik adalah salah satu mesin multiplier effect paling cepat dan paling nyata.

Bayangkan satu konser internasional besar di Bali. Ribuan bahkan puluhan ribu orang datang dari berbagai negara dan daerah. Hotel terisi. Villa penuh. Restoran bergerak. Transportasi lokal hidup. UMKM menjual produk. Pekerja event terserap. Desainer lokal membuat merchandise. Musisi lokal mendapat kesempatan tampil. Media internasional meliput. Konten digital menyebar. Pajak daerah meningkat. Devisa masuk ke Indonesia.

Jika konser itu dibuat dalam format multi-day event, dampaknya akan lebih besar. Wisatawan tidak hanya datang satu malam. Mereka bisa tinggal tiga sampai tujuh hari. Sebelum konser mereka menikmati Ubud, Sanur, Kuta, Nusa Dua, Canggu, Uluwatu, dan desa-desa wisata. Setelah konser mereka berbelanja, menikmati kuliner, mengikuti wellness program, melihat pertunjukan budaya, atau melanjutkan perjalanan ke Labuan Bajo, Lombok, dan destinasi lain di Indonesia.

Inilah multiplier effect yang dahsyat.

Satu konser besar tidak hanya menghidupkan panggung. Ia menghidupkan kamar hotel, meja restoran, kendaraan transportasi, dapur UMKM, pekerja kreatif, petani pemasok bahan makanan, nelayan, pengrajin, pemandu wisata, desa wisata, dan anak-anak muda yang bekerja di belakang layar industri event.

Namun agar Bali benar-benar mampu bersaing dengan Singapura dan Thailand, pemerintah harus hadir. Kehadiran pemerintah bukan untuk mengambil alih industri, tetapi untuk memastikan ekosistemnya sehat, efisien, dan masuk akal secara bisnis.

Salah satu persoalan utama dalam konser berskala dunia adalah biaya. Venue tidak boleh terlalu mahal. Perizinan tidak boleh berbelit. Biaya keamanan, pajak, logistik, teknis, dana operasional harus dirancang agar promotor internasional melihat Bali sebagai destinasi yang feasible. Jika seluruh biaya terlalu tinggi, konser besar akan sulit masuk. Industri musik global sangat rasional. Mereka akan menghitung risiko, kapasitas pasar, biaya produksi, dan potensi keuntungan.

Karena itu, pemerintah pusat dan daerah perlu duduk bersama dengan promotor, pemilik venue, hotel, maskapai, sponsor, kawasan pariwisata, dan pelaku industri kreatif. Tujuannya sederhana: membuat Bali masuk akal secara bisnis sebagai destinasi konser dunia.

Bali tidak hanya harus indah. Bali juga harus kompetitif.

Ada beberapa solusi nyata yang dapat segera dipertimbangkan.

Pertama, pemerintah perlu membentuk Bali Music Tourism Task Force yang melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku industri, promotor, hotel, maskapai, venue, aparat keamanan, dan komunitas kreatif. Task force ini bertugas menyusun strategi, kalender event, standar layanan, dan skema kolaborasi agar Bali menjadi destinasi konser internasional yang siap secara teknis dan bisnis.

Kedua, perlu ada skema venue partnership agar biaya penggunaan venue tetap rasional. Pemerintah dapat memfasilitasi kerja sama antara pemilik venue, promotor, sponsor, dan industri hospitality. Prinsipnya, harga venue tidak boleh membunuh kelayakan bisnis. Jika venue terlalu mahal, artis internasional tidak datang, promotor mundur, dan multiplier effect hilang sebelum terjadi.

Ketiga, perizinan konser internasional harus dibuat cepat, transparan, dan pasti. Promotor dunia membutuhkan kepastian waktu. Artis dunia memiliki jadwal tur yang sangat ketat. Jika izin tidak jelas, biaya tidak pasti, atau proses terlalu panjang, Bali akan kalah dari negara lain yang lebih siap. Kepastian regulasi adalah bagian dari daya saing destinasi.

Keempat, pemerintah perlu memberi dukungan dalam aspek keamanan, lalu lintas, kebersihan, kesehatan, dan crowd management. Event besar tidak hanya membutuhkan panggung. Ia membutuhkan pengalaman yang aman, tertib, bersih, nyaman, dan profesional. Wisatawan yang puas akan menjadi promotor terbaik bagi Bali.

Kelima, perlu dibuat paket kolaborasi antara konser, hotel, maskapai, restoran, dan destinasi wisata. Tiket konser dapat dikombinasikan dengan paket menginap, transportasi, kuliner, wellness, dan desa wisata. Dengan cara ini, nilai ekonomi tidak hanya berhenti di panggung, tetapi menyebar ke seluruh ekosistem pariwisata.

Keenam, konser dunia di Bali harus memberi ruang bagi pelaku lokal. Harus ada keterlibatan UMKM, kuliner lokal, merchandise lokal, pekerja event lokal, musisi lokal, seniman Bali, desa wisata, dan koperasi. Jangan sampai event besar hanya menjadi tontonan, tetapi tidak meninggalkan nilai ekonomi bagi rakyat sekitar.

Ketujuh, Bali perlu memiliki Bali International Music Calendar. Event tidak boleh sporadis. Harus ada kalender tahunan yang jelas: konser pop internasional, electronic dance music, jazz, world music, cultural music festival, beach concert, dan wellness-music event. Kalender yang konsisten akan membangun reputasi Bali sebagai music tourism hub Asia.

Kedelapan, promosi Bali sebagai destinasi konser dunia harus dilakukan melalui diplomasi pariwisata. KBRI, diaspora Indonesia, maskapai, hotel chain, promotor internasional, dan media global harus ikut memasarkan Bali bukan hanya sebagai tempat berlibur, tetapi sebagai tempat terbaik di Asia untuk menikmati konser dunia sambil mengalami budaya dan keindahan Indonesia.

Yang penting, rakyat harus ikut sejahtera. Konser dunia tidak boleh hanya menjadi panggung bagi artis dan promotor. Ia harus menjadi ruang ekonomi bagi pekerja lokal, UMKM, restoran, transportasi, hotel, desa wisata, petani, nelayan, pengrajin, dan anak-anak muda Bali. Di situlah music tourism bertemu dengan ekonomi kerakyatan.

Bali sudah memiliki modal yang dibutuhkan: nama besar, direct international flights, hotel yang banyak, hospitality yang kuat, destinasi yang indah, dan daya tarik global. Kini yang diperlukan adalah keberanian mengemas semua modal itu menjadi strategi baru.

Singapura telah menunjukkan bagaimana Taylor Swift dapat menggerakkan ekonomi kawasan. Thailand bergerak dengan Tomorrowland. Maka Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton.

Bali mampu bersaing. Bahkan, Bali bisa menawarkan sesuatu yang lebih lengkap: konser kelas dunia, pengalaman budaya, alam yang indah, hospitality Indonesia, kuliner, wellness, desa wisata, dan multiplier effect yang langsung dirasakan rakyat.

Kini saatnya Bali berani menjadi panggung musik dunia. Bukan hanya sebagai tempat orang datang untuk berlibur. Bukan hanya sebagai destinasi yang indah untuk dikenang. Tetapi sebagai pusat music tourism Asia yang membawa devisa, pekerjaan, kebanggaan nasional, dan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia.