Oleh : Yudi Latif

OPINi, TIVIBALI.com- Masa kuliah kami dimulai dengan dompet lebih tipis dari buku pedoman akademik, tetapi kepala lebih berisik daripada pengeras suara rektorat.

Uang makan dihitung seperti anggaran negara. Telur menjadi ukuran kesejahteraan. Mi instan menjadi agama bersama: satu bungkus untuk lima orang adalah latihan demokrasi.

Tengah malam kami merebusnya di tempat kos atau markas kampus sambil membicarakan filsafat, cinta, revolusi, dan masa depan bangsa—meski rekening sendiri belum jelas masa depannya.

Kami miskin uang, tetapi kaya teman dan gagasan. Kalau konsumsi tersedia, acara besar; kalau tidak, gerakan intelektual. Kalau honor tulisan cair: kutraktir makan bersama, bak memenangkan tender kehidupan.

Dari keterbatasan tumbuh kreativitas dan kecurigaan: kepada aturan kampus yang meminta mahasiswa kritis tetapi menyediakan formulir kritik; kepada mimbar akademik yang dibatasi “ketertiban”; kepada negara yang bicara tentang generasi muda tetapi lupa bahwa mereka juga perlu makan.

Maka kami membuat forum tanpa jadwal, membaca buku tanpa rekomendasi, dan bertanya agar otak tidak disubsidi kurikulum.

Kami menertawakan negara. Kekuasaan terlalu besar untuk dibiarkan tanpa humor; tawa setidaknya bisa membuat ketakutan kehilangan wibawa.

Seorang kawan mentraktir dengan uang terakhirnya. “Ini bukan traktir,” katanya, “investasi sosial.” Kami tertawa, berbagi kudapan sederhana, dan malam itu tak seorang pun merasa miskin.

Kami pernah membicarakan keadilan sambil menghitung helai mi di mangkuk. Itulah ironi masa muda: ingin menyelamatkan dunia ketika uang makan sendiri harus diselamatkan.

Lepas kuliah, teman-teman pergi: bekerja di kantor yang dulu kami kritik, mengenal target, cicilan, dan “sesuai kebijakan perusahaan”. Kami berubah, tetapi kebiasaan bertanya sebelum percaya tetap tinggal.

Kami pernah miskin, tetapi tidak pernah merasa kekurangan dunia. Teman menjadi perpustakaan, diskusi menjadi sekolah, dan kebersamaan menjadi kemewahan.

Barangkali itulah kekayaan pertama kami: hidup tak harus menunggu mapan untuk berarti. Revolusi kecil cukup dimulai dengan lima mahasiswa, sachet kopi, kepala gaduh, dan keberanian untuk tidak ikut diam.