SINGAPURA, TIVIBALI.com – Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum memanfaatkan ajang Orchid Extravaganza: Rhythm of the Rainforest di Gardens by the Bay, Singapura, sebagai panggung memperkenalkan produk Indikasi Geografis Indonesia ke dunia internasional. Salah satu instalasi yang paling mencuri perhatian adalah bunga Rafflesia raksasa berbalut motif Batik Besurek khas Bengkulu.
Pameran yang berlangsung 3 Juli hingga 10 Agustus 2026 ini merupakan hasil kolaborasi Gardens by the Bay dengan Kementerian Ekonomi Kreatif, DJKI Kementerian Hukum, dan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Singapura. Untuk pertama kalinya, Indonesia menjadi inspirasi utama. Flower Dome disulap menjadi lanskap Nusantara dengan replika Candi Bentar, Menara Meru, Rumah Adat Sumba Uma Mbatangu, sembilan instalasi anyaman tradisional raksasa, dan koleksi anggrek asli Indonesia.
Keberadaan Rafflesia berbalut Batik Besurek tidak sekadar menampilkan keindahan visual. Instalasi ini menjadi media diplomasi budaya dan ekonomi untuk memperkenalkan pentingnya pelindungan Kekayaan Intelektual, khususnya Indikasi Geografis, kepada jutaan pengunjung dari berbagai negara.
Ketua Tim Kerja Diseminasi dan Promosi DJKI, Endar Tri Ariningsih, menyebut partisipasi Batik Besurek di salah satu pameran hortikultura paling bergengsi di Asia sebagai langkah strategis memperluas eksposur produk lokal Indonesia.
“Kehadiran Batik Besurek di Gardens by the Bay merupakan langkah strategis kami dalam memperluas eksposur produk-produk lokal agar semakin dikenal, dipercaya, dan memiliki daya saing di pasar global. Jutaan pengunjung dari berbagai negara tidak hanya bisa menikmati keindahan instalasi ini, mereka juga dapat mengenal cerita, kualitas, dan keaslian produk Indikasi Geografis Indonesia,” ujar Endar dalam wawancara pada Minggu, 12 Juli 2026.
Batik Besurek telah mendapat pelindungan Indikasi Geografis dengan Nomor Registrasi E-IG.21.2019.000004 sejak 1 Februari 2021. Pelindungan itu diberikan sebagai pengakuan atas kualitas, reputasi, dan karakteristik yang lahir dari sejarah, budaya, serta keterampilan masyarakat Bengkulu.
Keunikan Batik Besurek terletak pada motif kaligrafi Arab gundul yang diolah sebagai unsur dekoratif. Motif tersebut tidak membentuk kata atau kalimat, sehingga menghasilkan corak khas yang mudah dikenali sebagai identitas budaya Bengkulu.
Status Indikasi Geografis juga memastikan setiap lembar Batik Besurek diproduksi sesuai standar. Mulai dari bahan baku, ukuran kain, hingga teknik pembuatan melalui batik tulis, batik cap, maupun kombinasi keduanya. Standar ini menjaga mutu dan mempertahankan keaslian produk.
Ketua Tim Kerja Pemanfaatan, Utilisasi, dan Pengawasan Indikasi Geografis DJKI, Irma Mariana, menegaskan bahwa sertifikasi Indikasi Geografis memiliki dampak lebih luas dari aspek hukum.
“Sertifikasi Indikasi Geografis yang telah diraih sejak 2021 bukan hanya sebatas pelindungan hukum, melainkan komitmen untuk menjaga standar mutu, karakteristik, dan keaslian karya. Kehadirannya di sini membuktikan bahwa pemanfaatan produk yang kualitasnya terjaga mampu meningkatkan daya saing sekaligus mendorong pertumbuhan ekosistem ekonomi yang bermuara pada kesejahteraan para perajin di Bengkulu,” jelas Irma.
Melalui Orchid Extravaganza 2026, DJKI berharap semakin banyak masyarakat internasional mengenal produk Indikasi Geografis Indonesia beserta nilai budaya di dalamnya. Promosi di panggung global ini juga diharapkan membuka akses pasar baru, meningkatkan nilai tambah produk daerah, dan mendorong kesejahteraan para perajin yang menjaga warisan budaya bangsa.
Masyarakat dan wisatawan mancanegara masih dapat mengunjungi pameran Orchid Extravaganza: Rhythm of the Rainforest di Flower Dome, Gardens by the Bay, hingga 10 Agustus 2026. (mtb)

Tinggalkan Balasan