MANADO, TIVIBALI.com – Ada film yang datang hanya untuk menghibur. Ada juga film yang datang untuk mengingatkan. FREE WIFI masuk ke kategori kedua.

Drama komedi produksi anak daerah ini masih diputar di sejumlah bioskop Manado. Di permukaan, film ini menyuguhkan tawa lewat tingkah para pemainnya. Tapi di balik lawakan itu, terselip narasi tentang keluarga, persahabatan, dan ironi teknologi yang seharusnya mendekatkan manusia, justru sering menjauhkan.

Yang membuat FREE WIFI berbeda bukan hanya ceritanya. Melainkan siapa yang memerankannya.

Panggung Terakhir Untuk Para Ikon Komedi Sulut

Film ini mempertemukan nama-nama besar komedi Sulawesi Utara lintas generasi. Kale, Tanta Mien, Papanialo, Sule, Bu Tahanusang, Om Sampel, hingga Amoy.

Bagi masyarakat Sulut, mereka bukan sekadar pelawak. Mereka adalah memori kolektif. Generasi yang menghidupkan panggung, hajatan, dan layar TV lokal jauh sebelum era konten digital lahir.

Kini usia sebagian besar dari mereka sudah di atas 60 tahun. _FREE WIFI_ menjadi debut layar lebar pertama sekaligus yang mungkin terakhir bagi mereka.

Ada catatan pilu di dalamnya. Ibu Tahanusang berpulang pada 2020, sebelum film ini benar-benar tayang. Kabarnya beliau sempat bertanya kapan filmnya rilis. Pertanyaan itu tak pernah terjawab. Beliau tak sempat melihat dirinya sendiri di layar bioskop.

Dari sisi akting, para senior ini tampil sangat organik. Tidak ada beban teknik berlebihan. Yang ada adalah jam terbang puluhan tahun yang membuat setiap gerak dan dialog terasa hidup. Penonton tertawa, lalu diam. Karena sadar, ini bukan sekadar akting. Ini sejarah.

Seandainya industri film nasional memberi ruang lebih awal, bukan tidak mungkin nama-nama ini akan sejajar dengan komedian papan atas Indonesia.

Distribusi Terbatas, Peluang Daerah Tergerus

Masalah klasik perfilman daerah kembali muncul: akses tayang.

_FREE WIFI_ hanya kebagian 2 layar di jaringan bioskop XXI. Sementara mayoritas slot masih dikuasai produksi dari PH besar. Akibatnya, jangkauan film daerah menjadi sangat terbatas.

Kondisi ini sudah lama jadi sorotan. Ketika bioskop hanya memutar film dari lingkaran yang sama, maka keragaman bakat daerah sulit naik kelas.

Beruntung, film ini masih bisa ditonton di 35 bioskop non-XXI di berbagai daerah. Artinya, masih ada jalur alternatif bagi penonton untuk mengapresiasi karya ini.

Mengapa Sulut Perlu Ramai-Ramai Nonton

Fenomena film daerah bukan hal baru. Masyarakat Makassar pernah membuktikan lewat _Uang Panai_ yang menembus ratusan ribu penonton karena didukung penuh warganya. Film itu naik bukan karena bujet besar, tapi karena rasa memiliki.

Pertanyaannya sekarang, bisakah Sulawesi Utara melakukan hal serupa?

Dukungan lewat komentar di media sosial tidak cukup. Dukungan nyata adalah dengan datang ke bioskop. Setiap tiket yang dibeli bukan hanya untuk menonton, tapi untuk memberi sinyal ke industri bahwa karya daerah layak diberi ruang.

Apalagi ini bukan film sembarang. Ini dokumentasi hidup. Setelah ini, belum tentu kita bisa melihat para legenda komedi Sulut berkumpul lagi di satu layar.

Saat ini hanya Mongol yang konsisten berkiprah di komedi nasional. Regenerasi di daerah belum terlihat jelas. Jika tidak dimulai dari sekarang, bisa-bisa panggung komedi Sulut hanya tinggal cerita. (mtb)