Oleh Arvindo Noviar
OPINI, TIVIBALI.com- Pagi belum terlalu tinggi saat anak-anak mulai berdatangan ke sekolah. Di beberapa tempat mereka menunggu makanan yang disiapkan sejak subuh. Asap masih naik dari dapur. Beras, telur, sayur, dan bahan pangan lain telah menempuh perjalanan yang panjang sebelum tiba di hadapan mereka. Bagi banyak anak, MBG adalah kegembiraan yang mereka tunggu setiap sekolah. Bagi Indonesia, ia adalah investasi bagi masa depan.
Program Makan Bergizi Gratis lahir dari pandangan yang jauh lebih panjang daripada urusan memberi makan rakyat. Presiden Prabowo Subianto berkali-kali berbicara tentang kualitas anak Indonesia sebagai fondasi masa depan. Masa depan sebuah bangsa akhirnya akan ditentukan oleh manusia yang tumbuh di dalamnya. Jalan, pelabuhan, kawasan industri, teknologi, serta berbagai capaian pembangunan lain memperoleh maknanya jika manusianya ikut bangkit.
Di saat program itu mulai berjalan dan manfaatnya mulai dirasakan, kampus-kampus kembali dipenuhi kegelisahan yang mencari salurannya sendiri. Sebagian membahas anggaran yang bengkak di tengah ekonomi yang sulit, sebagian mempersoalkan prioritas pembangunan, sebagian lagi mempertanyakan efektivitas program yang sedang berjalan. Dan tentu korupsi yang menjerat pimpinan program strategis tersebut. Tidak lama kemudian perhatian bergeser. Hoax menjadi pandemi. Persoalan melebar semakin jauh dari maksud awalnya. Nama organisasi dicari. Hubungan politik ditelusuri. Dugaan motif memenuhi ruang percakapan.
Peristiwa seperti ini tidak asing dalam perjalanan Indonesia. Kampus telah lama menjadi tempat berbagai pertanyaan sosial dirumuskan. Tahun 1966, 1974, dan 1998 sering dikenang karena peristiwa politik yang mengiringinya. Tokoh-tokoh yang lahir pada masanya telah bersalin rupa menjadi banyak laku. Sebab setiap zaman selalu muncul generasi muda yang mencoba memahami arah negeri yang kelak akan mereka warisi.
Hari ini pertanyaan itu hadir dalam suasana yang berbeda. Di banyak daerah, perubahan berlangsung begitu cepat sehingga orang dapat melihatnya dari tahun ke tahun. Kawasan pertanian tumbuh di tempat yang dahulu hanya dikenal sebagai hamparan rawa. Jalan baru mengubah arus barang dan manusia. Aktivitas ekonomi bergerak ke wilayah yang sebelumnya sepi dari perhatian. Perubahan itu nyata dan mudah ditemukan.
Pada saat yang sama, banyak kegelisahan tetap bertahan dalam kehidupan sehari-hari. Seorang lulusan perguruan tinggi masih menunggu pekerjaan yang sesuai dengan harapannya. Orang tua masih menghitung ulang biaya pendidikan anak menjelang semester baru. Mahasiswa yang melihat pembangunan berlangsung di depan matanya sendiri tidak selalu merasa menjadi bagian dari pembangunan itu. Kemudian pertanyaan-pertanyaan sosial muncul. Beberapa menyumbat, bahkan menggumpal menunggu meletus.
Pembangunan memang memiliki satu sifat yang dingin. Hasil terbesarnya hampir selalu datang jauh di kemudian hari. Orang yang menanam pohon tidak selalu menjadi orang yang menikmati buahnya. Banyak keputusan negara bekerja dengan cara yang serupa. Dampaknya baru terlihat setelah bertahun-tahun berlalu, saat keadaan sudah berubah dan perhatian rakyat bergerak ke persoalan lain.
Karena itu pembangunan memerlukan lebih dari anggaran dan kewenangan administratif. Ia memerlukan keterikatan sosial. Ia memerlukan generasi yang merasa dirinya memiliki hubungan langsung dengan tujuan yang sedang diperjuangkan. Hubungan itu tidak dapat dipaksa. Ia harus tumbuh perlahan melalui pengalaman yang membuat seseorang merasa dirinya memiliki tempat dalam agenda mencetak masa depan.
Di banyak kampus, kegelisahan mahasiswa sering lahir dari pengalaman semacam itu. Mereka mencoba meraba-raba masa depan yang akan mereka masuki. Sebagian membaca keadaan dengan tajam. Sebagian tergesa-gesa menarik kesimpulan. Sebagian masih mencari bahasa yang tepat untuk menjelaskan apa yang mereka rasakan. Itu adalah bagian dari proses yang hampir selalu menyertai setiap generasi.
Generasi muda Indonesia hari ini hidup dalam dunia yang sangat berbeda dibanding generasi sebelumnya. Informasi bergerak begitu cepat. Kebenaran dan ilusi sering tiba melalui layar yang sama pada waktu yang hampir bersamaan.
Seorang mahasiswa dapat mengikuti perkembangan kecerdasan buatan di Amerika Serikat, memahami konflik di Timur Tengah, atau menyaksikan perdebatan politik di Eropa hanya melalui telepon genggamnya. Pada malam yang sama ia kembali memikirkan biaya kuliah, peluang kerja, atau masa depan yang belum terlihat bentuknya. Dunia terasa semakin dekat. Masa depannya sendiri kadang terasa semakin jauh.
Keadaan seperti itu menciptakan jarak yang ganjil. Banyak anak muda semakin mengetahui banyak hal tentang dunia, sementara hubungan antara perubahan besar yang terjadi di sekelilingnya sering terasa kabur. Jalan baru dibangun. Kawasan industri tumbuh. Investasi datang. Aktivitas ekonomi bergerak. Semua dapat dilihat dengan mata kepala sendiri. Tapi tidak ada rasa terhubung.
Setiap kegelisahan mencari jawaban. Setiap ketidakpastian mencari makna. Sebagian menemukan penjelasan yang membantu memahami kenyataan secara lebih utuh. Sebagian lain menemukan jawaban yang lebih sederhana. Kesadaran generasi muda akhirnya menjadi wilayah yang diperebutkan oleh banyak narasi, banyak kepentingan, dan banyak cara pandang mengenai masa depan.
Pertaruhannya adalah hubungan antara generasi yang akan mewarisi Indonesia dengan perjalanan bangsa yang sedang berlangsung hari ini. Seorang anak muda akan menjaga sesuatu yang ia rasa ikut menjadi miliknya. Ia akan mengoreksi, mengawasi, bahkan membelanya saat merasa masa depannya ikut ditanam di dalamnya.
Pembangunan jangka panjang bergantung pada keyakinan sosial yang menopangnya. Banyak negara mampu membangun infrastruktur yang mengubah wajah ekonominya. Namun tidak semuanya berhasil menumbuhkan perasaan memiliki terhadap arah yang sedang ditempuh bersama. Orang dapat melihat jalan yang selesai dibangun. Orang dapat menghitung nilai investasi yang masuk. Yang jauh lebih sulit dilihat adalah apakah anak-anak muda di daerah yang berubah itu merasa masa depannya ikut tumbuh bersama perubahan tersebut.
Sejarah menunjukkan bahwa hubungan antara generasi yang membangun dan generasi yang mewarisi tidak selalu terjaga dengan baik. Jarak membuat keduanya perlahan saling menarik diri dari percakapan. Mereka merasa urusan bersama tidak lagi berkaitan dengan dirinya. Mula-mula orang berhenti peduli pada satu persoalan. Lalu persoalan berikutnya. Lama-kelamaan mereka merasa negeri ini berjalan tanpa hubungan dengan dirinya sendiri.
Karena itulah dialog memiliki arti yang penting. Dialog menjaga hubungan antara pembangunan dan manusia. Dialog memungkinkan kebijakan dijelaskan sekaligus diuji. Kritik memperoleh tempat yang wajar. Pertanyaan dapat diajukan tanpa lemparan batu dan tembakan gas air mata.
Kampus memiliki posisi yang penting dalam proses tersebut. Dari lingkungan kampus lahir banyak gagasan yang kemudian ikut membentuk kehidupan nasional. Ada yang berkembang menjadi kebijakan, ada yang menjadi koreksi, ada yang berubah menjadi gerakan sosial, dan ada pula yang tinggal sebagai pengingat bahwa setiap bangsa memerlukan ruang untuk mempertanyakan dirinya sendiri. Lebih penting lagi, kampus selalu melahirkan generasi yang suatu hari akan mengambil bagian dalam mengelola negeri ini dengan caranya masing-masing.
Beberapa puluh tahun dari sekarang, banyak hal yang sedang diperdebatkan hari ini mungkin telah menjadi bagian dari kehidupan nasional. Jalan yang dibangun sekarang akan dianggap biasa. Kawasan industri yang sedang tumbuh mungkin telah menjadi bagian tetap dari peta ekonomi Indonesia. Anak-anak yang hari ini menerima manfaat program gizi akan memasuki usia produktif dan menjalani kehidupannya sendiri. Nilai sesungguhnya dari seluruh upaya itu terletak pada apakah mereka merasa memiliki hubungan dengan sejarah yang melahirkannya.
Sebuah bangsa diwariskan melalui kesadaran yang hidup di dalam masyarakatnya. Ia hadir melalui keterikatan, tanggung jawab, dan keyakinan bahwa perjalanan bersama ini layak diteruskan. Saat hubungan itu melemah, berbagai capaian yang terlihat kokoh dapat kehilangan penyangga yang selama ini jarang dibicarakan. Sebuah bangsa mulai kehilangan pewarisnya saat generasi yang akan datang merasa sejarah bangsanya adalah urusan orang lain. (Tim)

Tinggalkan Balasan