DENPASAR, TIVIBALI.com – Pemerintah Provinsi Bali memulai pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) sebagai langkah strategis menuntaskan persoalan sampah secara berkelanjutan. Groundbreaking proyek pertama dalam program percepatan PSEL nasional berdasarkan Perpres Nomor 109 Tahun 2025 itu dilakukan di Desa Pedungan, Denpasar Selatan, Rabu (8/7/2026) yang bertepatan dengan Buda Umanis Medangsia.

Gubernur Bali Wayan Koster mengatakan pemilihan hari baik menurut penanggalan Bali merupakan bentuk ikhtiar agar proses pembangunan berjalan lancar hingga tuntas.

“Niat baik Bapak Presiden juga dijalankan dengan cara yang baik, dengan memilih hari yang baik untuk memulai pembangunan PSEL ini,” ujar Gubernur.

Dalam proyek strategis ini, Pemprov Bali dan Pemkot Denpasar berbagi peran. Pemkot Denpasar menyiapkan lahan bersama Pelindo seluas sekitar 6 hektare, sementara Pemprov Bali melakukan pematangan lahan untuk mendukung percepatan pembangunan.

Koster menargetkan pembangunan selesai dalam 1 tahun 8 bulan atau Oktober 2027. “Jika PSEL ini selesai, maka persoalan sampah di Bali dapat ditangani secara tuntas,” katanya.

Ia menegaskan PSEL sangat penting bagi Bali sebagai destinasi pariwisata dunia. Data terakhir mencatat kunjungan wisatawan ke Bali lebih dari 16 juta orang, terdiri dari 7,5 juta wisman dan 9,3 juta wisnus. Sektor pariwisata menyumbang sekitar 65 persen terhadap perekonomian Bali.

“Penyelesaian persoalan sampah menjadi kebutuhan mendesak untuk menjaga citra Bali sebagai destinasi wisata dunia yang bersih, nyaman, dan berkelanjutan,” tegasnya.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BPI Danantara Rosan Roeslani menyebut keberhasilan PSEL Bali adalah hasil sinergi semua pihak. Sesuai arahan Presiden, persoalan sampah harus segera diselesaikan agar tidak menjadi beban generasi mendatang.

“Tanpa sinergi seluruh pihak, proyek ini tidak akan berjalan dengan baik dan cepat. Kami di Danantara optimistis pembangunan PSEL Bali dapat diselesaikan tepat waktu,” ujarnya.

Senada, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengapresiasi semangat gotong royong di Bali. Ia menyebut kolaborasi pusat, daerah, PLN, dan Danantara menjadi fondasi mempercepat penyelesaian sampah nasional.

Chief Investment Officer Danantara Pandu Sjahrir menjelaskan, sejak terbitnya Perpres 109/2025, Danantara langsung menindaklanjuti. Tahapannya meliputi seleksi mitra, pembentukan BUPP, penandatanganan JV, perizinan, hingga pematangan lahan.

PSEL Bali dirancang menggunakan teknologi moving grate incinerator dengan Air Pollution Control System berstandar emisi Eropa (EU IED). Teknologi ini diproyeksikan mampu menurunkan emisi hingga 80 persen dibanding pembuangan terbuka di TPA.

Investasi proyek sekitar Rp3 triliun dengan kapasitas 1.500 ton sampah per hari. Fasilitas ini ditargetkan mampu memasok listrik untuk 100.000 rumah dan menyerap 1.200 tenaga kerja hijau selama konstruksi dan operasional. Operasi komersial ditargetkan Semester I 2028.

Lebih dari sekadar tempat pengolahan sampah, PSEL Bali juga mengusung filosofi Tri Hita Karana dengan desain arsitektur lokal, material daerah, serta dilengkapi _visitor center_ dan jalur edukasi.

Dengan hadirnya PSEL, Pemprov Bali optimistis persoalan sampah dapat ditangani efektif, lingkungan tetap lestari, dan sektor pariwisata sebagai penopang utama ekonomi Pulau Dewata semakin kuat. (*/mtb)