JAKARTA, TIVIBALI.com – Dalam Sistem Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta, rakyat tidak ditempatkan sebagai penonton yang berdiri di pinggir gelanggang sejarah. Rakyat adalah tenaga bangsa itu sendiri.
Petani yang menjaga pangan, buruh yang menghidupkan produksi, dokter yang merawat manusia, insinyur yang menjaga infrastruktur, guru dan kaum intelektual yang memelihara pikiran, hingga pekerja transportasi yang menggerakkan logistik, semuanya memiliki tempat dalam pertahanan negara.
Senjata memang berada di tangan mereka yang dipersiapkan untuk memanggulnya. Namun perang semesta memiliki makna yang jauh lebih luas daripada letupan senapan. Sebuah bangsa yang masih mampu makan, berobat, berkomunikasi, bergerak, berpikir, dan berproduksi adalah bangsa yang masih memiliki kemampuan untuk melawan.
Strategi Perang Semesta harus memperoleh jiwanya dari kekuatan bangsa itu sendiri. TNI berdiri sebagai kekuatan utama pertahanan. Di sekelilingnya hidup kekuatan besar bernama rakyat, beserta seluruh kekayaan nasional yang dapat dihimpun untuk mempertahankan negara dan bangsa.
Musuh boleh menghitung jumlah pesawat, kapal, tank, dan pasukan yang dimiliki. Tetapi ada satu hal yang jauh lebih sulit mereka ukur, yaitu kehendak suatu bangsa untuk tetap tegak di sepanjang sejarah peradaban.
Selama desa masih menghasilkan pangan, kota masih bekerja, jalan dan pelabuhan masih mengalirkan kebutuhan, ilmu pengetahuan masih berkembang, pemerintahan masih berjalan, dan rakyat masih percaya bahwa negara ini layak dipertahankan, selama itulah Indonesia akan tetap berdiri.
Indonesia akan tetap menjadi tuan atas tanah airnya sendiri, menentukan jalan sejarahnya sendiri, dan berdiri dengan kepala terangkat di antara bangsa-bangsa di dunia.
Penulis : Arvindo Noviar
Editor : Moh. Ali Wibowo

Tinggalkan Balasan