BADUNG, TIVIBALI.com – Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Bali, Putri Suastini Koster, menegaskan perlindungan terhadap kain tenun tradisional Endek Bali harus dilakukan secara menyeluruh, dari hulu hingga hilir.
Penegasan itu disampaikan Putri Koster saat menghadiri Journey of Wastra, rangkaian peringatan HUT ke-36 Discovery Kartika Plaza Hotel di Beach Gate, Kuta, Kabupaten Badung, Jumat (3/10/2026).
Menurut Putri Koster, pelestarian Endek tidak cukup hanya di sisi hilir melalui promosi dan penggunaan. Pengawasan pada proses produksi di hulu menjadi kunci agar kualitas, motif, dan karakter Endek tetap terjaga sebagai warisan budaya Bali.
“Untuk menjaga keberadaan kain tenun tradisional Endek Bali, harus ada upaya perlindungan dari hulu hingga hilir. Ketika di hilir keberadaannya mulai diangkat, maka di hulu dan bagian tengahnya juga harus dijaga. Jangan sampai produksinya keluar dari koridor yang akhirnya membuat kita kehilangan identitas warisan leluhur,” ujar Putri Koster.
Putri Koster menekankan, setiap daerah di Nusantara memiliki kekayaan wastra dengan ciri khas masing-masing. Kekhasan tersebut wajib dipertahankan dan tidak boleh diseragamkan, karena merupakan identitas budaya sekaligus sumber ekonomi perajin.
*Soroti Perlindungan Hak Cipta Motif*
Selain aspek produksi, istri Gubernur Bali Wayan Koster itu juga menyoroti urgensi perlindungan kekayaan intelektual perajin, mulai dari ide, desain, hingga motif.
Ia menilai regulasi dan penegakan hukum harus berjalan tegas agar karya perajin tidak diklaim atau digunakan pihak lain tanpa izin.
“Kalau ada yang memiliki ide dan motif kemudian diambil oleh pihak lain, aturan dan sanksinya harus ditegakkan. Kalau kita diam saja, kita akan semakin kehilangan warisan kita. Jangan menyamakan satu daerah dengan daerah lainnya karena masing-masing harus memiliki dan mempertahankan ciri khasnya,” tegasnya.
Dari sisi ekonomi, Dekranasda Bali terus mendorong ekosistem yang mempertemukan perajin dengan pasar. Salah satunya dengan menyediakan ruang pemasaran di Art Center Denpasar sebagai etalase produk kerajinan lokal.
Menurutnya, meningkatnya permintaan pasar akan memicu perajin meningkatkan produksi dan kreativitas. Namun peningkatan kuantitas harus tetap diimbangi dengan kualitas dan keaslian karakter Endek Bali.
Dorong Regenerasi Konsumen Muda
Putri Koster juga menilai pentingnya regenerasi konsumen untuk menjaga keberlanjutan Endek. Generasi muda, kata dia, harus dibiasakan mencintai produk lokal dan diberi ruang berkreasi mengadaptasi Endek sesuai tren fesyen tanpa menghilangkan identitasnya.
“Anak-anak muda harus kita ajarkan mencintai produk lokal terlebih dahulu. Setelah itu, biarkan mereka menggunakan dan mengembangkannya sesuai selera masing-masing, tetapi tetap dengan bahan Endek yang kita miliki,” katanya.
Ia mendorong kolaborasi kuat antara Dekranasda Bali, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, serta pemangku kepentingan lain untuk menjaga keberlanjutan kerajinan daerah, termasuk dalam perlindungan kekayaan intelektual.
Kegiatan Journey of Wastra sendiri dinilai strategis untuk memperkenalkan wastra Bali kepada publik yang lebih luas, baik wisatawan domestik maupun mancanegara. Rangkaian acara diisi pameran IKM Bali, membatik, talk show, dan peragaan busana yang menampilkan karya desainer Cok Abi, Padmi, serta desainer dari Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya Kemenperin.
Talk show menghadirkan Kepala Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya Kemenperin Dickie Sulistya Aprilyanto, Creative Director Idon Pande, serta Coordinator of Fashion Design Tjok Istri Ratna.
Melalui kegiatan ini, wastra Bali diharapkan tidak hanya lestari sebagai identitas budaya, tetapi juga memiliki nilai tambah ekonomi bagi perajin dan pelaku industri kreatif Bali. (ad/maw)

Tinggalkan Balasan